Rohani

Renungan Singkat Menyegarkan, “ROTI PEMBERI HIDUP YANG KEKAL”

11
×

Renungan Singkat Menyegarkan, “ROTI PEMBERI HIDUP YANG KEKAL”

Sebarkan artikel ini
RD Kristo Oki

“ROTI PEMBERI HIDUP YANG KEKAL”

Oleh RD Kristo Oki

 

Bacaan Injil

Yoh 6:51-58

Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Di rumah ibadat di Kapernaum  Yesus berkata kepada orang banyak, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi bertengkar antar mereka sendiri dan berkata, “Bagaimana Yesus ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan!” Maka kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku, dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, ia akan hidup  oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” 

Demikianlah Ssbda Tuhan

****

Homili Minggu, 07 Juni 2026

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus !

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari raya ini mengajak kita memandang kembali pusat iman kita: Kristus yang memberi diri-Nya sebagai makanan dan minuman keselamatan. Dalam Ekaristi, kita tidak hanya mengenang Yesus, tetapi menerima Yesus sendiri. Kita tidak hanya berbicara tentang kasih Allah, tetapi menyambut kasih itu dalam rupa roti dan anggur yang menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Maka Tema kita “Roti Pemberi Hidup yang Kekal” langsung membawa kita ke jantung Injil hari ini. Yesus berkata: “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Sabda ini bukan sekadar perumpamaan indah. Ini adalah pernyataan iman yang sangat dalam. Yesus tidak berkata, “Aku memberi roti hidup,” tetapi “Akulah roti hidup.” Artinya, hidup kekal bukan pertama-tama sebuah benda, hadiah, atau konsep, melainkan Pribadi Kristus sendiri. Siapa yang menerima Dia, siapa yang bersatu dengan Dia, siapa yang hidup dari Dia, akan hidup selama-lamanya.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Injil Yohanes, orang-orang Yahudi mulai bertengkar. Mereka bertanya: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Pertanyaan ini lahir dari cara berpikir manusiawi. Mereka berhenti pada tubuh jasmani Yesus. Mereka belum mampu masuk ke dalam misteri kasih Allah yang melampaui logika biasa. Tetapi Yesus tidak menarik kembali perkataan-Nya. Ia justru menegaskan: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”

Di sini Yesus mengungkapkan inti Ekaristi. Tubuh-Nya diberikan. Darah-Nya dicurahkan. Hidup-Nya dibagikan. Ekaristi adalah pemberian diri Kristus secara total. Ia tidak memberi kita sebagian dari diri-Nya. Ia memberi seluruh hidup-Nya. Ia menjadi roti agar kita tidak mati dalam kelaparan rohani. Ia menjadi minuman agar jiwa kita tidak kering oleh dosa, ketakutan, kebencian, dan keputusasaan.

Inilah perbedaan besar antara makanan biasa dan Ekaristi. Makanan biasa kita makan agar tubuh kita hidup. Tetapi Ekaristi kita sambut agar jiwa kita hidup di dalam Allah. Makanan biasa akan habis dan membuat kita lapar lagi. Tetapi Kristus, Roti Hidup, memberi hidup yang tidak dapat dihancurkan oleh kematian.

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan pertama dari Kitab Ulangan membantu kita memahami mengapa manusia membutuhkan roti dari Allah. Musa mengingatkan bangsa Israel akan perjalanan mereka di padang gurun. Mereka lapar, haus, lelah, dan tidak berdaya. Dalam keadaan itu, Allah memberi mereka manna dari surga.

Tetapi Musa menegaskan satu hal penting: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” Artinya, manusia tidak cukup hidup hanya dengan makanan jasmani. Manusia bisa kenyang perutnya, tetapi kosong hatinya. Manusia bisa punya banyak harta, tetapi miskin damai. Manusia bisa memiliki banyak fasilitas, tetapi kehilangan arah hidup. Manusia bisa hidup secara biologis, tetapi mati secara rohani.

Bangsa Israel pernah mengalami bahaya itu. Ketika sudah kenyang, ketika sudah aman, ketika sudah memiliki banyak hal, mereka bisa lupa kepada Tuhan. Karena itu Musa berkata: “Jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu.” Pesan ini sangat kuat untuk kita hari ini. Banyak kali kita mengingat Tuhan ketika susah, tetapi mudah melupakan Tuhan ketika hidup mulai nyaman. Kita mencari Tuhan saat sakit, tetapi menjauh saat sehat. Kita memohon pertolongan saat krisis, tetapi lupa bersyukur saat berkat datang. Kita datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu, tetapi tidak selalu datang karena mencintai Dia.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita: Tuhan tidak boleh menjadi tambahan dalam hidup kita. Tuhan adalah sumber hidup kita. Ekaristi bukan sekadar kewajiban hari Minggu. Ekaristi adalah manna baru, roti surgawi, tanda bahwa Allah terus menyertai perjalanan kita di padang gurun kehidupan.

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus memperdalam makna Ekaristi sebagai persatuan. Paulus berkata: “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus?” Lalu ia menambahkan: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh.”

Ini sangat penting. Ekaristi bukan hanya menyatukan kita dengan Kristus, tetapi juga menyatukan kita satu sama lain. Kita menerima Tubuh Kristus yang sama. Maka kita dipanggil menjadi satu tubuh, satu keluarga, satu Gereja.

Karena itu, tidak pantas seseorang rajin menyambut Komuni, tetapi memelihara kebencian. Tidak pantas kita berkata “Amin” kepada Tubuh Kristus, tetapi menolak berdamai dengan sesama. Tidak pantas kita makan dari satu roti yang sama, tetapi hidup dalam iri hati, fitnah, dendam, dan perpecahan.

Ekaristi menuntut pertobatan sosial. Setelah menerima Tubuh Kristus, kita harus belajar menjadi tubuh yang memberi hidup bagi orang lain. Setelah menyambut Kristus yang dipecah-pecahkan bagi keselamatan dunia, kita pun dipanggil memecahkan egoisme kita. Kita dipanggil berbagi waktu, perhatian, rezeki, pengampunan, dan kasih.

Sebab Ekaristi tidak berhenti di altar. Ekaristi harus berlanjut di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di pasar, di jalan, di tengah masyarakat. Orang yang sungguh hidup dari Ekaristi akan membawa damai, bukan keributan. Ia membawa berkat, bukan luka. Ia membawa pengampunan, bukan dendam. Ia membawa kehidupan, bukan kematian relasi.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus dalam Injil hari ini berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Inilah kalimat yang sangat indah. Ekaristi adalah misteri tinggal. Kita tinggal dalam Kristus, dan Kristus tinggal dalam kita. Ia tidak jauh. Ia tidak hanya berada di tabernakel. Ia masuk ke dalam hidup kita. Ia hadir dalam tubuh kita yang lemah, dalam hati kita yang rapuh, dalam jiwa kita yang sering lelah.

Tetapi pertanyaannya: apakah kita sungguh membiarkan Kristus tinggal di dalam kita?

Kita mungkin menerima Komuni, tetapi hati kita belum memberi ruang bagi Kristus. Kita mungkin datang ke Misa, tetapi pikiran kita jauh. Kita mungkin mengucapkan “Amin”, tetapi hidup kita belum sungguh berubah. Maka hari ini kita diajak memeriksa diri: apakah Ekaristi sudah menjadi pusat hidupku? Apakah aku menyambut Komuni dengan iman, hormat, dan kerinduan? Apakah hidupku setelah Misa mencerminkan Kristus yang kuterima?

Kata “Amin” saat menerima Komuni bukan jawaban biasa. Itu adalah pengakuan iman. Saat imam atau pelayan berkata, “Tubuh Kristus,” dan kita menjawab “Amin,” kita sedang berkata: “Ya, saya percaya. Ini sungguh Tubuh Kristus. Saya menerima Dia. Saya mau hidup dalam Dia. Saya mau diubah oleh Dia.”

Maka Komuni tidak boleh menjadi kebiasaan kosong. Komuni adalah perjumpaan. Komuni adalah penyerahan diri. Komuni adalah kesediaan untuk diubah oleh Kristus.

Saudara-saudari terkasih,

Dunia hari ini menawarkan banyak “roti”. Ada roti popularitas, roti kekuasaan, roti uang, roti kenikmatan, roti pujian manusia. Semua itu tampak mengenyangkan, tetapi sering tidak memberi hidup. Banyak orang mengejar semuanya, tetapi tetap merasa kosong. Banyak orang memiliki banyak hal, tetapi kehilangan damai. Banyak orang tersambung dengan dunia digital, tetapi terputus dari Tuhan dan sesama.

Di tengah kelaparan rohani zaman ini, Yesus berkata: “Akulah roti hidup.” Ia tidak menawarkan hiburan sesaat. Ia menawarkan hidup kekal. Ia tidak hanya mengisi kekosongan hati. Ia mengubah hati. Ia tidak hanya menemani perjalanan kita. Ia menjadi makanan untuk perjalanan itu.

Karena itu, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah undangan untuk kembali mencintai Ekaristi. Jangan datang ke Misa hanya karena kewajiban. Datanglah karena rindu. Jangan menerima Komuni dengan hati dingin. Sambutlah dengan iman. Jangan biarkan Ekaristi berlalu tanpa buah. Biarkan Kristus yang kita terima membentuk cara kita berbicara, berpikir, mengampuni, melayani, dan mengasihi.

Saudara-saudari terkasih,

Pada akhirnya, Yesus menutup Injil hari ini dengan janji yang sangat kuat:

“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Inilah harapan kita. Hidup kita di dunia ini tidak abadi. Tubuh kita lemah. Usia kita terbatas. Segala harta akan kita tinggalkan. Tetapi siapa yang hidup dalam Kristus tidak berjalan menuju kehampaan. Ia berjalan menuju hidup kekal.

Ekaristi adalah bekal perjalanan menuju rumah Bapa. Ekaristi adalah roti peziarah. Ekaristi adalah tanda bahwa Allah tidak membiarkan kita berjalan sendirian. Dalam setiap Misa, Kristus berkata kepada kita: “Aku memberikan diri-Ku bagimu. Makanlah dan hiduplah. Tinggallah dalam Aku, dan Aku dalam kamu.”

Maka marilah kita merayakan Ekaristi hari ini dengan hati yang bersyukur. Marilah kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan iman yang hidup. Marilah kita menjadi umat yang tidak hanya menerima Roti Hidup, tetapi juga menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi sesama: memberi harapan bagi yang putus asa, memberi pengampunan bagi yang bersalah, memberi kasih bagi yang terluka, memberi kehidupan bagi dunia yang lapar akan Allah.

Semoga Kristus, Roti Pemberi Hidup yang Kekal, tinggal dalam hati kita, menguatkan langkah kita, menyatukan keluarga dan Gereja kita, serta menuntun kita menuju kehidupan kekal.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *