Rohani

Homili Hati Minggu Biasa XVI; “Benih Mana yang Tumbuh dalam Ladang Hati?”

30
×

Homili Hati Minggu Biasa XVI; “Benih Mana yang Tumbuh dalam Ladang Hati?”

Sebarkan artikel ini

“Benih Mana yang Tumbuh dalam Ladang Hati?”

Oleh: RD Kristo Oki

 

 

Bacaan- bacaan;

Kebijaksanaan 12:13.16–19; Roma 8:26–27; Matius 13:24–43

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus!

Setiap petani mengetahui bahwa hasil panen sangat ditentukan oleh benih yang ditanam, keadaan tanah, dan cara tanaman itu dipelihara. Benih yang baik dapat menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, rumput liar yang dibiarkan bertumbuh dapat menghambat dan merusak tanaman.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang sebuah ladang. Seorang tuan menaburkan benih yang baik di ladangnya. Namun, ketika semua orang sedang tidur, musuh datang menaburkan lalang di antara gandum. Akibatnya, gandum dan lalang tumbuh bersama dalam ladang yang sama.

Perumpamaan ini tidak hanya berbicara tentang dunia, Gereja, atau kehidupan bersama. Perumpamaan ini juga berbicara tentang diri kita masing-masing. Hati manusia adalah sebuah ladang. Setiap hari ada berbagai benih yang ditaburkan ke dalam hati kita.

Pertanyaannya adalah: Benih mana yang sedang tumbuh dalam ladang hati kita?

Apakah yang sedang bertumbuh adalah gandum berupa kasih, iman, kesabaran, pengampunan, kejujuran dan kerendahan hati? Ataukah yang bertumbuh justru lalang berupa kebencian, iri hati, dendam, kesombongan, kemarahan dan kebiasaan menghakimi sesama?

Saudara-saudari terkasih,

Dalam perumpamaan itu, para hamba bertanya kepada tuannya, “Bukankah benih baik yang tuan taburkan di ladang? Dari manakah lalang itu?”

Pertanyaan ini juga sering kita ajukan kepada Tuhan. Tuhan menciptakan manusia dengan baik. Tuhan memberikan kehidupan, keluarga, alam, iman dan berbagai rahmat. Namun, mengapa ada kejahatan? Mengapa ada kebencian, kekerasan, ketidakadilan dan penderitaan? Dari manakah semua lalang itu berasal?

Tuan dalam perumpamaan menjawab, “Seorang musuh yang melakukannya.”

Artinya, kejahatan tidak berasal dari Allah. Allah menaburkan benih yang baik. Namun, manusia juga memiliki kebebasan. Ada godaan, kelemahan, dosa dan berbagai pengaruh buruk yang dapat menanamkan lalang ke dalam hati manusia.

Lalang dapat masuk melalui perkataan yang melukai. Lalang dapat tumbuh melalui kebiasaan menyimpan dendam. Lalang dapat berkembang ketika kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Lalang dapat semakin kuat ketika kita senang membicarakan kesalahan sesama, tetapi tidak pernah memeriksa kesalahan diri sendiri.

Kadang-kadang kita tidak menyadari kapan lalang itu mulai tumbuh. Awalnya hanya sebuah rasa kecewa. Kemudian menjadi kemarahan. Kemarahan yang tidak disembuhkan berubah menjadi dendam. Dendam yang dipelihara akhirnya menghasilkan kebencian.

Karena itu, kita perlu menjaga ladang hati. Tidak semua pikiran harus dipelihara. Tidak semua perasaan harus diikuti. Tidak semua perkataan harus diucapkan. Kita harus berani bertanya: Apakah pikiran, perkataan dan tindakan ini berasal dari benih Allah atau dari benih si jahat?

Saudara-saudari terkasih,

Ketika para hamba melihat lalang, mereka berkata, “Maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” Namun, tuan itu menjawab, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang.”

Jawaban ini menunjukkan kesabaran dan kebijaksanaan Allah. Tuhan tidak bertindak terburu-buru. Tuhan tidak mudah menghukum. Tuhan memberikan waktu dan kesempatan kepada manusia untuk berubah.

Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan bahwa kuasa Allah menjadi dasar keadilan dan belas kasih-Nya. Allah berkuasa atas segala sesuatu, tetapi Ia mengadili dengan kemurahan hati. Ia mengajarkan kepada umat-Nya bahwa orang benar harus mengasihi sesama dan tetap memiliki harapan bahwa orang berdosa dapat bertobat.

Kesabaran Allah bukanlah tanda bahwa Allah lemah atau tidak peduli terhadap kejahatan. Kesabaran Allah merupakan kesempatan bagi manusia untuk bertobat.

Bukankah kita sendiri hidup karena kesabaran Tuhan? Berapa kali kita melakukan kesalahan, tetapi Tuhan masih memberi kesempatan? Berapa kali kita berjanji untuk berubah, tetapi jatuh lagi ke dalam kelemahan yang sama? Namun, Tuhan tidak segera mencabut hidup kita. Ia tetap memanggil, menegur, mengampuni dan menunggu kita kembali.

Kalau Tuhan begitu sabar terhadap kita, mengapa kita sering tidak sabar terhadap sesama? Kita mudah memberi cap kepada orang lain: orang itu jahat, tidak berguna, tidak dapat berubah, atau tidak pantas diberi kesempatan. Kita seakan-akan sudah mengetahui seluruh isi hati dan masa depannya.

Padahal, orang yang hari ini tampak seperti lalang masih dapat bertobat dan menghasilkan buah yang baik. Santo Paulus dahulu menganiaya umat Kristiani, tetapi kemudian menjadi rasul besar. Santo Agustinus pernah hidup jauh dari Tuhan, tetapi kemudian menjadi uskup dan pujangga Gereja.

Tidak ada orang yang terlalu jauh sehingga tidak dapat disentuh oleh rahmat Allah. Karena itu, tugas kita bukanlah menentukan dengan cepat siapa gandum dan siapa lalang. Tugas kita adalah menjaga agar diri kita sendiri tetap bertumbuh sebagai gandum yang baik.

Saudara-saudari terkasih,

Namun, kita juga harus berhati-hati. Kesabaran Tuhan tidak berarti bahwa penghakiman tidak akan terjadi. Yesus menjelaskan bahwa pada waktu panen, gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung, sedangkan lalang akan dibakar. Akan tiba saatnya setiap orang mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. Kesabaran Tuhan adalah kesempatan untuk bertobat, bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa.

Karena itu, hari ini kita perlu melihat dengan jujur ladang hati kita. Adakah benih kebencian yang sedang kita pelihara? Adakah seseorang yang belum kita ampuni? Adakah iri hati yang terus kita biarkan? Adakah kebiasaan buruk yang kita anggap biasa, padahal perlahan-lahan merusak hidup kita? Adakah kesombongan yang membuat kita sulit mengakui kesalahan?

Mungkin kita merasa tidak mampu mencabut semua lalang itu. Kita ingin berubah, tetapi jatuh lagi. Kita ingin memaafkan, tetapi luka itu masih terasa. Kita ingin berdoa, tetapi tidak mengetahui apa yang harus dikatakan.

Dalam keadaan seperti itu, bacaan kedua memberikan penghiburan: “Roh membantu kita dalam kelemahan kita.” Roh Kudus tidak meninggalkan kita berjuang sendirian. Ketika kita tidak mengetahui bagaimana harus berdoa, Roh sendiri berdoa bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Ada kalanya kita datang kepada Tuhan tanpa banyak kata. Kita hanya mampu diam. Kita hanya mampu menangis. Kita tidak mampu menjelaskan luka, ketakutan atau pergumulan kita. Namun, air mata dapat menjadi doa. Keheningan dapat menjadi doa. Kerinduan untuk berubah pun dapat menjadi doa. Roh Kudus mengetahui isi hati kita dan membawa doa kita kepada Bapa. Karena itu, jangan pernah berkata, “Saya tidak dapat berubah.” Selama kita membuka hati kepada Roh Kudus, selalu ada kemungkinan untuk bertumbuh.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus juga berbicara tentang biji sesawi dan ragi. Biji sesawi sangat kecil, tetapi kemudian bertumbuh menjadi tanaman yang besar. Ragi hanya sedikit, tetapi dapat mengembangkan seluruh adonan. Ini berarti bahwa kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan hati dapat dimulai dari langkah yang kecil.

Sebuah permintaan maaf dapat menjadi benih perdamaian. Sebuah keputusan untuk berhenti bergosip dapat menjadi benih kasih. Sebuah doa singkat dalam keluarga dapat menjadi benih iman. Sebuah kunjungan kepada orang sakit dapat menjadi benih penghiburan. Sebuah tindakan jujur dapat menjadi benih keadilan.

Jangan meremehkan benih-benih kecil kebaikan. Ketika ditanam dengan iman dan dipelihara dengan kesetiaan, Tuhan dapat menumbuhkannya menjadi berkat yang besar.

Setiap hari, melalui pikiran, perkataan dan tindakan, kita sedang menaburkan benih. Di dalam keluarga, kita dapat menaburkan benih damai atau benih pertengkaran. Di tempat kerja, kita dapat menaburkan benih kejujuran atau benih kecurangan. Di tengah masyarakat, kita dapat menaburkan benih persaudaraan atau benih perpecahan. Apa yang kita taburkan hari ini, suatu saat akan kita tuai.

Saudara-saudari terkasih,

Marilah kita kembali bertanya kepada diri sendiri: Benih mana yang sedang tumbuh dalam ladang hati saya?

Apabila kita menemukan gandum yang baik, marilah kita memeliharanya dengan doa, Sabda Tuhan, Ekaristi dan perbuatan kasih. Apabila kita menemukan lalang, janganlah kita berputus asa. Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan. Mintalah Roh Kudus membantu kelemahan kita. Rahmat Tuhan mampu membersihkan, menyembuhkan dan memperbarui hati kita.

Semoga kita tidak sibuk melihat lalang dalam kehidupan sesama, tetapi lupa memeriksa ladang hati sendiri. Semoga Tuhan menjadikan hati kita tanah yang subur bagi benih kasih, pengampunan, kesabaran, kejujuran dan kesetiaan.

Dan pada saat panen kehidupan tiba, semoga kita didapati sebagai gandum yang baik dan dikumpulkan Tuhan ke dalam lumbung Kerajaan-Nya.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *