Rohani

Homili Minggu Biasa XIV;  “Undangan yang Melegakan”

14
×

Homili Minggu Biasa XIV;  “Undangan yang Melegakan”

Sebarkan artikel ini

 “Undangan yang Melegakan”

Oleh: RD Kristo Oki

 

HOMILI MINGGU, 5 JULI 2026

Minggu Biasa XI

Bacaan: Zakharia 9:9-10; Roma 8:9.11-13; Matius 11:25-30

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan !

Hari ini Tuhan Yesus menyampaikan sebuah undangan yang sangat indah dan menenangkan hati: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Sabda ini bukan hanya kalimat penghiburan, tetapi sungguh sebuah panggilan kasih dari Tuhan bagi setiap orang yang sedang lelah, letih, terluka, cemas, dan berbeban dalam hidup.

Kita semua pasti pernah merasa lelah. Ada yang lelah karena pekerjaan. Ada yang lelah karena ekonomi keluarga. Ada yang lelah karena sakit. Ada yang lelah karena persoalan rumah tangga. Ada yang lelah karena merasa tidak dimengerti. Ada juga yang tampak kuat di luar, tetapi sesungguhnya menyimpan banyak beban di dalam hati. Di tengah semua keadaan itu, Yesus tidak datang untuk menambah beban kita. Ia datang untuk mengundang kita datang kepada-Nya.

Dalam bacaan pertama, Nabi Zakharia menggambarkan Raja yang datang dengan lemah lembut. Ia tidak datang dengan kesombongan dan kekerasan, tetapi dengan kerendahan hati. Ia datang membawa damai. Inilah gambaran tentang Yesus. Tuhan kita bukan Tuhan yang jauh dan menakutkan. Ia adalah Raja damai yang mendekati manusia dengan kelembutan. Ia tidak mematahkan hati yang rapuh. Ia tidak menolak orang yang datang dengan air mata. Ia justru merangkul dan menyembuhkan.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Injil hari ini, Yesus bersyukur kepada Bapa karena misteri Kerajaan Allah dinyatakan bukan terutama kepada orang yang merasa diri hebat dan pintar, tetapi kepada orang kecil, sederhana, dan rendah hati. Ini menjadi pesan penting bagi kita. Untuk mengalami kelegaan dari Tuhan, kita perlu datang dengan hati yang sederhana. Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Kita tidak perlu menyembunyikan luka kita. Tuhan mengenal isi hati kita. Ia tahu beban yang kita pikul. Yang Ia minta hanyalah agar kita mau datang kepada-Nya.

Namun, datang kepada Yesus bukan berarti semua persoalan langsung hilang. Datang kepada Yesus berarti kita tidak lagi memikul beban sendirian. Kita belajar memikul kuk bersama Dia. Yesus berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kuk adalah alat yang dipasang pada hewan pekerja untuk menarik beban. Tetapi kuk Yesus bukan kuk yang menindas. Kuk Yesus adalah jalan kasih, kesetiaan, pengampunan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada Allah.

Kadang hidup menjadi berat bukan hanya karena masalah dari luar, tetapi juga karena sikap hati kita sendiri. Kita menyimpan dendam, sulit mengampuni, terlalu cemas, terlalu mengandalkan diri sendiri, atau mengejar hal-hal duniawi secara berlebihan. Karena itu, Santo Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Hidup menurut daging membuat hati makin berat karena dikuasai ego, nafsu, iri hati, kesombongan, dan ketakutan. Tetapi hidup menurut Roh membawa damai, harapan, kekuatan, dan hidup baru.

Maka, undangan Yesus hari ini adalah undangan untuk kembali menata hati. Ia mengajak kita meletakkan beban hidup di hadapan-Nya. Ia mengajak kita berhenti sebentar dari kegelisahan yang tidak ada habisnya. Ia mengajak kita percaya bahwa hidup ini tidak kita jalani sendirian. Tuhan berjalan bersama kita. Tuhan menopang kita. Tuhan memberi kekuatan ketika kita merasa tidak sanggup lagi.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus Tuhan.

Misa Kudus yang kita rayakan setiap hari Minggu adalah tempat kita menjawab undangan Yesus itu. Di sini kita datang membawa syukur, doa, air mata, pergumulan, dan harapan. Di sini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya. Di sini Tuhan memberi diri-Nya dalam Ekaristi. Maka jangan datang kepada Tuhan hanya ketika semua sudah baik-baik saja. Datanglah justru ketika hati sedang berat. Datanglah ketika kita merasa lemah. Datanglah ketika kita membutuhkan kekuatan baru.

Hari ini Yesus berkata kepada kita masing-masing: “Marilah kepada-Ku.” Bukan kepada orang lain saja, tetapi kepada saya dan saudara. Marilah kepada-Ku, hai engkau yang letih. Marilah kepada-Ku, hai engkau yang berbeban. Marilah kepada-Ku, hai engkau yang sedang mencari damai. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Semoga kita belajar menjadi pribadi yang rendah hati, hidup menurut Roh, dan selalu menemukan kelegaan sejati di dalam Tuhan. Dan setelah kita dilegakan oleh Tuhan, semoga kita juga menjadi pembawa kelegaan bagi sesama: melalui kata-kata yang menenangkan, sikap yang mengampuni, kehadiran yang menguatkan, dan kasih yang nyata dalam hidup sehari-hari.

Selamat Hari Minggu.

Doaku: Tuhan memberkati.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *