Rohani

Homili Minggu Biasa XI; “Memelihara Identitas Panggilan Gereja”

13
×

Homili Minggu Biasa XI; “Memelihara Identitas Panggilan Gereja”

Sebarkan artikel ini
RD Kristo Oki

Memelihara Identitas Panggilan Gereja”

Oleh; RD Kristo Oki

 

TEKS BIBLIS : KELUARAN 19:2-6a ;

ROMA 5:6-11 ;

MATIUS 9:36-10:8

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus !

Tiga bacaan suci hari ini membawa kita masuk ke dalam satu alur keselamatan yang sangat indah: Allah memanggil, Allah menyelamatkan, dan Allah mengutus. Dari Sinai, melalui salib Kristus, sampai kepada perutusan para rasul, kita melihat bahwa umat Allah tidak pernah dipanggil hanya untuk dirinya sendiri. Umat Allah dipanggil untuk memiliki identitas yang jelas, hidup dari rahmat, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.

Karena itu, tema yang kita renungkan hari ini adalah: “Memelihara Identitas Panggilan Gereja.”

Dalam bacaan pertama dari Kitab Keluaran, bangsa Israel tiba di padang gurun Sinai. Mereka baru saja dibebaskan dari perbudakan Mesir. Sebelum Allah memberikan hukum dan perintah-Nya, Allah lebih dahulu mengingatkan mereka: “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.”

Kalimat ini sangat penting. Allah tidak memulai perjanjian dengan tuntutan, tetapi dengan ingatan akan kasih. Israel harus sadar bahwa identitas mereka bukan lahir dari kekuatan mereka sendiri, melainkan dari karya Allah yang membebaskan. Mereka adalah bangsa yang pernah diperbudak, tetapi diangkat oleh Allah; bangsa yang pernah lemah, tetapi didukung di atas sayap rajawali; bangsa yang pernah berjalan di padang gurun, tetapi dibawa kepada Allah sendiri.

Di sinilah dasar identitas umat Allah: mereka adalah umat yang diselamatkan oleh rahmat. Maka ketika Allah berkata, “Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa,” itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada bangsa lain. Sebaliknya, itu adalah panggilan untuk hidup berbeda: setia, kudus, dan menjadi tanda kehadiran Allah.

Allah juga berkata, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Inilah identitas panggilan umat Allah. Mereka dipilih bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi untuk menjadi saluran berkat. Mereka dipanggil bukan hanya untuk beribadah, tetapi untuk menghadirkan Allah dalam hidup nyata. Mereka harus menjadi bangsa yang hidupnya mencerminkan kekudusan, keadilan, kasih, dan kesetiaan kepada Tuhan.

Identitas inilah yang kemudian diteruskan dan disempurnakan dalam Gereja. Gereja adalah umat Perjanjian Baru. Melalui Kristus, kita juga dibebaskan, bukan dari Mesir secara fisik, tetapi dari perbudakan dosa. Melalui baptisan, kita mengambil bagian dalam martabat Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Maka Gereja tidak boleh lupa siapa dirinya. Gereja bukan sekadar organisasi sosial. Gereja bukan hanya lembaga manusia. Gereja adalah umat yang ditebus, dikuduskan, dan diutus oleh Allah.

Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma memperdalam dasar identitas itu. Paulus berkata: “Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” Ini adalah inti Injil. Allah tidak menunggu manusia menjadi sempurna baru kemudian mengasihinya. Allah mengasihi manusia justru ketika manusia masih lemah, berdosa, dan jauh dari-Nya.

Di sini Paulus menunjukkan kedalaman rahmat Allah. Kita dibenarkan bukan karena jasa kita, melainkan karena darah Kristus. Kita didamaikan bukan karena kita lebih dahulu layak, melainkan karena Kristus wafat bagi kita. Bahkan ketika manusia menjadi seteru Allah karena dosa, Allah sendiri mengambil langkah pendamaian melalui kematian Anak-Nya.

Maka identitas Gereja harus selalu berakar pada salib Kristus. Gereja tidak boleh membangun dirinya di atas kebanggaan manusiawi, kuasa duniawi, atau prestasi lahiriah semata. Gereja hidup karena darah Kristus. Gereja berdiri karena belas kasih Allah. Gereja ada karena Kristus telah mati dan bangkit untuk mendamaikan manusia dengan Bapa.

Karena itu, memelihara identitas panggilan Gereja berarti memelihara kesadaran bahwa kita adalah umat yang telah didamaikan. Orang yang telah didamaikan tidak boleh hidup dalam kebencian. Orang yang telah diampuni tidak boleh menutup pintu pengampunan. Orang yang telah diselamatkan oleh rahmat tidak boleh memandang rendah mereka yang masih jatuh dalam kelemahan.

Di sinilah Gereja harus menjadi rumah pendamaian. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh kepentingan, dendam, politik identitas, persaingan ekonomi, dan luka-luka sosial, Gereja dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus yang mendamaikan. Gereja harus menjadi tempat di mana orang yang terluka menemukan penghiburan, orang berdosa menemukan jalan pulang, dan orang yang kehilangan harapan menemukan kembali kasih Allah.

Injil Matius hari ini menunjukkan wujud konkret dari identitas Gereja itu. Yesus melihat orang banyak, lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Perhatikan baik-baik: misi Yesus lahir dari tatapan belas kasih. Yesus tidak melihat orang banyak sebagai beban. Ia tidak melihat mereka sebagai massa tanpa nama. Ia melihat luka mereka, keletihan mereka, kebingungan mereka, dan keterlantaran mereka. Hati-Nya tergerak.

Inilah hati Gereja yang sejati: hati yang mampu melihat. Gereja kehilangan identitasnya ketika ia tidak lagi mampu melihat penderitaan umat. Gereja kehilangan panggilannya ketika ia sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi tidak lagi tersentuh oleh domba-domba yang lelah dan terlantar.

Yesus lalu berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Sebelum mengutus, Yesus meminta doa. Ini berarti misi Gereja bukan pertama-tama lahir dari strategi, program, atau kepandaian manusia, tetapi dari doa. Gereja yang memelihara identitas panggilannya adalah Gereja yang berlutut sebelum berjalan, Gereja yang mendengar sebelum berbicara, Gereja yang berdoa sebelum bekerja.

Sesudah itu, Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa. Mereka diutus untuk mewartakan: “Kerajaan Surga sudah dekat.” Mereka juga diperintahkan untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan. Dengan kata lain, pewartaan Injil harus menjadi kabar baik yang menyentuh hidup manusia secara nyata.

Gereja tidak diutus hanya untuk berbicara tentang kasih, tetapi untuk menghadirkan kasih. Gereja tidak diutus hanya untuk mengajarkan kebenaran, tetapi untuk menggembalakan dengan kebenaran yang menyelamatkan. Gereja tidak diutus hanya untuk menjaga altar, tetapi juga untuk merawat mereka yang terluka di jalan kehidupan.

Namun Yesus memberi pesan yang sangat mendasar: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Inilah spiritualitas pelayanan Gereja. Semua adalah rahmat. Panggilan adalah rahmat. Imamat adalah rahmat. Hidup bakti adalah rahmat. Keluarga Katolik adalah rahmat. Talenta, jabatan, karisma, dan pelayanan adalah rahmat. Karena diterima secara cuma-cuma, semuanya harus diberikan dengan hati yang tulus, rendah hati, dan tanpa pamrih.

Saudara-saudari terkasih,

Dari ketiga bacaan ini, kita dapat melihat tiga ciri identitas panggilan Gereja.

Pertama, Gereja adalah umat perjanjian. Seperti Israel di Sinai, Gereja dipanggil untuk mendengarkan suara Allah dan berpegang pada perjanjian-Nya. Identitas Gereja harus dijaga dengan kesetiaan pada Sabda, sakramen, ajaran iman, dan hidup kudus.

Kedua, Gereja adalah umat yang didamaikan oleh Kristus. Seperti ditegaskan Paulus, kita hidup karena Kristus telah mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Maka Gereja harus menjadi tanda pendamaian, bukan sumber perpecahan; menjadi ruang belas kasih, bukan ruang penghakiman yang dingin.

Ketiga, Gereja adalah umat yang diutus. Seperti para rasul dalam Injil, Gereja dipanggil keluar menjumpai domba-domba yang lelah dan terlantar. Identitas Gereja bukan hanya dipelihara di dalam gedung gereja, tetapi diuji di tengah dunia: dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, pelayanan, masyarakat, dan terutama di tengah mereka yang miskin, sakit, tersingkir, dan kehilangan harapan.

Maka pertanyaan bagi kita hari ini: apakah kita masih memelihara identitas panggilan Gereja? Apakah kita masih hidup sebagai umat perjanjian yang mendengarkan Allah? Apakah kita sungguh menjadi orang-orang yang telah didamaikan dan mau mendamaikan? Apakah hati kita masih tergerak oleh belas kasih ketika melihat umat yang lelah dan terlantar?

Tema hari ini, “Memelihara Identitas Panggilan Gereja,” bukan hanya panggilan untuk para imam, biarawan, biarawati, atau pelayan pastoral. Ini adalah panggilan untuk seluruh umat beriman. Setiap orang Katolik, karena baptisan, dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kristus. Di rumah, kita menjadi Gereja kecil. Di sekolah, kita menjadi saksi nilai Injil. Di tempat kerja, kita membawa kejujuran dan tanggung jawab. Di masyarakat, kita menghadirkan kasih, keadilan, dan persaudaraan.

Memelihara identitas panggilan Gereja berarti tidak melupakan asal-usul kita: kita berasal dari rahmat Allah. Memelihara identitas panggilan Gereja berarti tidak melupakan pusat hidup kita: Kristus yang wafat dan bangkit. Memelihara identitas panggilan Gereja berarti tidak melupakan tugas kita: diutus untuk melayani dengan belas kasih.

Semoga Gereja kita, paroki kita, komunitas kita, keluarga kita, dan diri kita masing-masing semakin menjadi umat yang setia pada perjanjian, hidup dari pendamaian Kristus, dan berani diutus bagi dunia.

Kita memohon rahmat Tuhan agar hati kita tidak menjadi dingin, mata kita tidak menjadi buta terhadap penderitaan, dan pelayanan kita tidak kehilangan ketulusan. Sebab kita telah menerima semuanya dengan cuma-cuma, maka marilah kita memberikannya pula dengan cuma-cuma.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *