Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Hari Raya Idul Fitri dan Paskah 2026 sudah lama berlalu. Namun gaung pesan damai dan solidaritas dari perayaan besar dua kelompok umat beragama ini masih kuat menggema.
Usai beribadah mingguan (26/04/26), belasan perempuan Desa Loyobohor Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata ini, larut dalam sukacita di Pantai Belutewan.
Ini bukan piknik biasa.
Mereka merupakan ibu rumah tangga dari Dasawisma Nyiur Melambai RT RT 08 Dusun 04 Desa Loyobohor.
Kebersamaan mereka di pantai Beluwetan mengandung makna istimewa.

Dasawisma Nyiur Melambai, adalah rumah bersama bagi dua penganut keyakinan yang berbeda, Kristen dan Islam.
Setelah melewati berbagai usaha bersama-sama, hari ini, di bawah semilir angin pantai di antara nyiur yang melambai, mereka merayakan sukacita Paskah dan Idul Fitri bersama.
Wajah Ramsia Peni, Ketua Dasawisma Nyiur Melambai, merah menahan haru.
Suami dan anak-anak semua anggota Dasawismanya, tenggelam dalam hangatnya persaudaraan.
Senyum kebanggaan, perlahan merekah di sudut bibir Ramsiah.
Hatinya kagum akan solidaritas antar umat beragama yang terjalin kuat dan dalam.
“Terima kasih karena mama semua dan juga keluarga mau terlibat. Kita kumpul ini tidak hanya untuk makan minum. Yang lebih penting, kita bisa jaga dan perkuat silaturahmi. Kami senang karena semua terlibat” ungkap Ramsia.
Kebersamaan ini dihiasi dengan doa bersama dan diwarnai dengan berbagai permainan, diselingi cerita dan canda tawa.
Family Gathering sederhana ini amat mengesankan. Tak ada sekat yang memisahkan dan kerikil yang mengganjal.
Persaudaraan penuh solidaritas ini mengalirkan hormon-hormon kebahagiaan.
Mereka pun kembali mengikat janji untuk membuat perayaan bersama Hari Raya, sebagai even tahunan.
“Dengan antusiasme yang bagus begini, kita rencanakan untuk bikin tiap tahun. Dan mulai tahun depan kita lebih perbanyak kegiatannya. Puncaknya mungkin pesiar ke pantai, tapi nanti dimulai dengan rangkaian kegiatan di desa,” ujar Ramsia sumringah.
Dasawisma ini pun bahkan bermimpi untuk melibatkan semua keluarga yang tinggal di luar desa.
“Kita rencanakan tahun depan, kita ajak juga semua anggota keluarga di dasawisma yang tinggal di luar. Jadi macam keluarga yang tinggal jauh di Lewoleba, akan kita libatkan. Sekalian libur dan reuni,” pungkasnya.
Cerita sukacita warga Dasawisma, menggugah hati Meleng Lelangwayan, warga diaspora Loyobohor di Lewoleba.
“Kami senang le dengan acara silahturahmi mereka dasawisma. tahun depan kami siap bergabung. Ini momen bagus. Ini macam family gathering skala dasawisma,” ujar Meleng.
Meleng Lelangwayan berjanji akan memperbanyak permainan edukatif, sekalian reuni.
Warga Kelurahan Lewoleba Selatan Kecamatan Nubatukan, yang pernah menjadi Penjabat Kepala Desa Loyobohor ini kagum.

Keharmonisan yang dihidupkan ibu-ibu dasawisma menjadi energi positif, untuk membangun solidaritaa antar umat beragama.
“Saya nanti akan bicarakan dengan diaspora Loyobohor- Lewoleba khususnya yang punya rumah induk di Dasawisma Nyiur Melambai, untuk mendukung. Ini unik. Kreatifitas mama-mama harus diteruskan,” ujar Meleng sambil menghirup kopi hitam yang nikmat, di teras rumahnya.
Semburat senja mulai menerpa pasir yang basah oleh percikan ombak.
Para ibu pun berkemas-kemas, membawa pulang semangat baru dalam kehangatan persaudaran, ke dalam pelukan keluarganya masing-masing. (EA)









