GagasanRohani

Renungan Singkat Menyegarkan; “Pergi Yang Tidak Meninggalkan”

15
×

Renungan Singkat Menyegarkan; “Pergi Yang Tidak Meninggalkan”

Sebarkan artikel ini
 Oleh, Rm Kristo Oki
Bacaan Injil Yohanes 16:5-11
Pada waktu itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
“Sekarang Aku pergi kepada Dia yang mengutus Aku. Namun tidak seorang pun dari kamu bertanya kepada-Ku: ‘Ke mana Engkau pergi?’ Sebaliknya, karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, hatimu dipenuhi dukacita.
Tetapi Aku mengatakan kebenaran kepadamu: lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jika Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu. Tetapi jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
Dan kalau Ia datang, Ia akan menyadarkan dunia tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman.
Tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepada-Ku.
Tentang kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi.
Tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”
“Pergi Yang Tidak Meninggalkan”
Secara manusiawi, perpisahan selalu melahirkan kecemasan.
Ketika seseorang pergi, hati sering dipenuhi rasa takut: takut sendiri, takut kehilangan arah, takut tidak lagi dicintai.
Perasaan inipun menghantui  para murid saat Yesus berkata bahwa Ia akan pergi. Mereka diam, sedih, dan batin mereka penuh kegelisahan.
Namun Yesus memahami luka batin murid-murid-Nya. Karena itu Ia tidak sekadar berkata “jangan sedih,” melainkan memberi kepastian: “Aku akan mengutus Penolong kepadamu.”
Artinya, kepergian-Nya bukan “melepaskan”, melainkan cara baru Tuhan hadir dalam hidup mereka.
Secara psikospiritual, banyak luka manusia lahir dari perasaan ditinggalkan.
Ada orang kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, kehilangan kepercayaan, bahkan kehilangan makna hidup.
Luka-luka itu membuat hati mudah jatuh dalam dosa: marah, kecewa, putus asa, menutup diri, atau merasa Tuhan jauh.
Tetapi Roh Kudus datang sebagai Penolong yang menginsafkan. Ia bekerja lembut di dalam hati manusia.
Ia menyadarkan kita akan dosa bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan.
Ia menuntun pada kebenaran bukan sekadar benar menurut logika, tetapi benar yang memberi damai. Dan Ia mengingatkan tentang penghakiman bahwa kejahatan, luka, dan kegelapan bukanlah pemenang terakhir hidup manusia.
Kadang Tuhan memang “mengambil jarak”, supaya iman kita bertumbuh dewasa. Seperti seorang ibu yang perlahan melepas tangan anaknya agar ia belajar berjalan sendiri, demikian pula Yesus “pergi”, tetapi Roh-Nya tetap menopang kita.
Di bulan Maria ini, kita belajar dari Bunda Maria yang tetap tenang dalam kehilangan dan ketidakmengertian.
Ia tidak membiarkan dukanya berubah menjadi putus asa, sebab ia percaya Roh Allah tetap bekerja dalam diam.
Maka ketika hidup terasa sepi dan kosong, ingatlah:
“Tuhan mungkin tidak selalu hadir dengan cara yang kita lihat, tetapi Ia tidak pernah berhenti hadir dalam cara yang kita butuhkan.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *