“PENCITRAAN KEROHANIAN YANG DANGKAL”
Olrh; RD Kristo Oki
Bacaan Injil Mat 6:1-6.16-18
Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan mengganjar engkau.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit, Yesus bersabda, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di depan orang, supaya dilihat. Sebab jika demikian, kalian tidak memperoleh upah dari Bapamu di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang-orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.
Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya.’Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
“Dan apabila kalian berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya.’Tetapi jikalau engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
“Dan apabila kalian berpuasa, janganlah muram mukamu, seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.’Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
Saudara-saudariku yang terkasih!
Hari ini Yesus mengingatkan kita tentang bahaya besar dalam hidup beriman, yaitu ketika kesalehan berubah menjadi panggung pencitraan. Sedekah, doa, dan puasa adalah tindakan rohani yang luhur. Tetapi semuanya bisa menjadi dangkal bila dilakukan hanya supaya dilihat, dipuji, dan dianggap saleh oleh orang lain.
Yesus berkata, jangan melakukan kewajiban agama di hadapan orang supaya dilihat mereka. Sabda ini bukan melarang kita berbuat baik di depan orang. Yang Yesus tegur adalah hati yang mencari kemuliaan diri, bukan kemuliaan Allah. Sebab orang bisa memberi, tetapi bukan karena kasih. Orang bisa berdoa, tetapi bukan karena rindu kepada Bapa. Orang bisa berpuasa, tetapi bukan karena pertobatan, melainkan karena ingin dipandang rohani.
Di sinilah Yesus membongkar pencitraan kerohanian yang dangkal. Kerohanian menjadi dangkal ketika yang kita kejar adalah tepuk tangan, komentar, pujian, dan pengakuan manusia. Kita tampak dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya sedang sibuk membesarkan diri sendiri. Kita tampak melayani, tetapi hati diam-diam menuntut dihargai. Kita tampak berkorban, tetapi kecewa bila tidak disebut namanya.
Yesus mengajak kita masuk ke ruang tersembunyi: ruang hati yang jujur di hadapan Bapa. Sebab Bapa melihat yang tersembunyi. Manusia mungkin hanya melihat tampilan luar, tetapi Allah melihat motivasi terdalam. Di hadapan Allah, yang bernilai bukan banyaknya tepuk tangan, melainkan tulusnya kasih. Bukan indahnya penampilan rohani, melainkan murninya hati.
Maka hari ini, mari kita memurnikan hidup iman kita. Berbuat baiklah tanpa harus selalu diketahui. Berdoalah bukan untuk terlihat suci, tetapi untuk sungguh berjumpa dengan Allah. Berpuasalah bukan untuk tampak hebat, tetapi untuk menata kembali hati yang sering dikuasai ego.
Kerohanian sejati tidak ribut mencari panggung. Ia tumbuh dalam keheningan, dalam ketulusan, dan dalam kasih yang tidak menuntut balasan. Sebab iman yang mendalam bukan soal tampak rohani di mata manusia, tetapi menjadi benar di hadapan Allah.
Quotes RESIMEN
“Kerohanian yang sejati tidak sibuk mencari pujian manusia, tetapi setia memurnikan hati di hadapan Bapa yang melihat yang tersembunyi.”
Doa Singkat
Tuhan Yesus, bersihkanlah hatiku dari keinginan untuk dipuji dan dilihat orang. Ajarlah aku berbuat baik dengan tulus, berdoa dengan rendah hati, dan bertobat dengan sungguh. Semoga hidup imanku tidak menjadi pencitraan yang dangkal, tetapi persembahan kasih yang murni di hadapan Bapa. Amin.
SLOGAN RESIMEN :
SEGAR FIRMAN-NYA – KUATKAN IMAN – NYATAKAN KASIH




