Rohani

Renungan. Singkat Menyegarkan; “Kasih yang Tembus Batas”

11
×

Renungan. Singkat Menyegarkan; “Kasih yang Tembus Batas”

Sebarkan artikel ini
RD Kristo Oki

“Kasih yang Tembus Batas”

Oleh, RD Kristo Oki

 

Bacaan Injil Mat 5:43-48

Kasihilah musuh-musuhmu.

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu.’Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.’Karena dengan demikian

kalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat, dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar.

Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kalian hanya memberi salam kepada saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?

Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Saudara-saudariku terkasih!

Injil hari ini membawa kita kepada salah satu ajaran Yesus yang paling dalam, indah, tetapi juga paling sulit: mengasihi musuh. Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Sabda ini tidak mudah diterima, sebab secara manusiawi hati kita cenderung mengasihi orang yang mengasihi kita, menghormati orang yang menghormati kita, dan menjauh dari orang yang melukai kita.

Namun Yesus tidak memanggil kita untuk hidup hanya menurut ukuran manusiawi. Ia mengajak kita masuk ke ukuran kasih Allah. Kasih Allah bukan kasih yang sempit, bukan kasih yang pilih-pilih, bukan kasih yang hanya hadir ketika kita merasa nyaman. Kasih Allah adalah kasih yang tembus batas: menembus batas luka, batas kebencian, batas suku, batas kelompok, batas gengsi, batas dendam, bahkan batas permusuhan.

Mengasihi musuh bukan berarti kita membenarkan kejahatan. Mengampuni bukan berarti kita menutup mata terhadap ketidakadilan. Yesus tidak meminta kita menjadi lemah di hadapan kesalahan. Tetapi Yesus meminta kita agar tidak membiarkan hati kita menjadi rumah bagi dendam. Sebab ketika dendam dipelihara, yang pertama-tama rusak bukan musuh kita, melainkan hati kita sendiri.

Kasih yang tembus batas berarti kita berani berkata: aku tidak mau membalas luka dengan luka. Aku tidak mau menjawab kebencian dengan kebencian. Aku tidak mau membiarkan hidupku dikendalikan oleh orang yang pernah menyakitiku. Aku memilih tetap menjadi anak Bapa, bukan tawanan dendam.

Yesus memberi alasan yang sangat indah: Bapa di surga menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik, serta menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar. Artinya, kemurahan Allah tidak dibatasi oleh kelayakan manusia. Allah tetap memberi kesempatan, tetap membuka ruang pertobatan, tetap menghadirkan berkat kehidupan bagi semua orang.

Di sinilah murid Kristus dipanggil berbeda. Kita tidak hanya dipanggil menjadi orang baik menurut ukuran umum, tetapi menjadi tanda kehadiran Bapa yang murah hati. Kasih Kristiani menjadi nyata ketika kita tetap memilih mendoakan orang yang sulit kita kasihi. Doa bagi musuh adalah langkah kecil, tetapi sangat besar maknanya. Karena dalam doa, hati yang keras mulai dilembutkan. Luka yang gelap mulai disentuh terang rahmat. Relasi yang beku mulai diserahkan kepada Allah.

Mungkin hari ini ada nama tertentu yang masih berat kita sebut dalam doa. Ada wajah tertentu yang masih menimbulkan sakit hati. Ada pengalaman tertentu yang masih meninggalkan luka. Injil hari ini tidak memaksa kita melupakan semuanya seketika. Tetapi Injil mengundang kita memulai satu langkah kecil: membawa orang itu kepada Tuhan, bukan lagi kepada kemarahan kita.

Kasih yang tembus batas adalah kasih yang tidak berhenti pada rasa sakit. Ia berjalan melewati luka menuju pemulihan. Ia tidak membiarkan masa lalu menentukan kualitas hati kita hari ini. Sebab hati yang mengasihi seperti Bapa adalah hati yang merdeka: tidak lagi dikuasai dendam, tetapi dipimpin oleh rahmat.

Maka, pada hari Selasa ini, mari kita belajar menjadi sempurna seperti Bapa. Bukan sempurna tanpa kelemahan, tetapi sempurna dalam arah kasih: semakin utuh, semakin luas, semakin murah hati, dan semakin menyerupai Kristus.

Quotes RESIMEN

“Kasih yang tembus batas tidak membenarkan luka, tetapi membebaskan hati dari dendam agar damai Allah kembali bertakhta.”

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarlah aku mengasihi dengan hati yang lebih luas. Lembutkanlah hatiku yang masih menyimpan luka, dendam, dan kecewa. Mampukan aku mendoakan mereka yang pernah menyakitiku, bukan karena aku kuat, tetapi karena rahmat-Mu bekerja dalam diriku. Jadikan aku anak Bapa yang membawa damai, bukan kebencian; membawa berkat, bukan pembalasan. Amin.

 

Slogan RESIMEN

SEGAR FIRMAN-NYA — KUATKAN IMAN — NYATAKAN KASIH

Selamat memaknai hari. Doaku: Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *