Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Inspirasi kemandirian dan solidaritas datang dari cerita Kebun Jagung Louis de Monfort Kabupaten Lembata. Sebuah Kelompok Basis Gerejani (KBG) umat Katolik di Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur yang memanfaatkan lahan tidur untuk ekonomi dan pangan mandiri. Tiga bulan bekerja, mereka siap meraup potensi keuntungan hingga belasan juta rupiah.
Kebun Jagung Louis de Monfort terletak di hamparan luas, Bukit Kolinuba, Kelurahan Lewoleba Barat Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Di sekelilingnya, bermukim sejumlah umat Katolik. Tidak banyak. Hanya 13 rumah. Berbekal inspirasi program kemandirin pangan dari pemerintah yang juga diperkuat tema Solidaritas untuk Membangun Umat Basis Gerejani dari Keuskupan Larantuka, mereka menyulap lahan padang jadi kebun jagung.

” Kami baru memulainya tahun ini. Masih sedikit. Baru 0,76 hektar. Ini lahan yang disukarelakan oleh Kongregasi Frater HHK (Hamba-Hamba Kristus, red) di samping biara mereka. Kami bikin kebun kelompok ini untuk dukung kami punya kebutuhan keuangan di KBG juga terkait iuran-iuran ke gereja. Jadi pilihan ini sangat membantu keuangan kelompok, ” papar Heri Liman, Ketua KBG Louis de Monfort.
Heri Liman bicara di sela-sela panen jagung hibrida yang ditanam di Kebun Louis de Monfort, Rabu pagi, 22 April 2026. Heri bersama umat mulai memanen bulir-bulir jagung yang sebelumnya sudah dikupas langsung di pohon untuk penjemuran langsung.
Panen jagung ini juga dihadiri sejumlah pihak yang mendukung mereka. Lurah Lewoleba Barat, Yakobus Manuk, anggota Babinkamtibmas juga beberapa Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Hadir juga Frater Trisno HHK, dari konggregasi HHK yang meminjamkan lahan untuk jadi Kebun Louis de Monfort.
Mikael Geo Witak, PPL yang mendampingi Kelompok Tani Louis de Monfort menyebutkan, pihaknya mendampingi petani sejak penanaman pada Desember 2025. Dari luasan lahan 0,67 hektar, sudah dilakukan perhitungan dengan teknik ubinan random pada 17 April dan diperoleh estimasi hasil panen jagung sekitar 3,60 ton.
“Kami dampingi sejak awal tanam pada 3 desember 2025. Termasuk dua kali pemupukan. Dan dua minggu lalu, kita mulai masuk persiapan panen. Kami ajak anggota untuk pangkas batang atas lalu mulai kupas untuk penjemuran pohon. Supaya cepat kering. Tanggal 17 April kita buat ubinan random dan sudah dapat hasilnya. Perkiraan sekitar 3,60 ton. Kurang lebihnya begitu,” jelas Mikael Witak.
Kelompok tani Louis de Monfort yang berbasis Umat Katolik yang tinggal dalam satu wilayah ini pun telah terdaftar sebagai Kelompok Tani dalam database Kementerian Pertanian pada 22 Januari 2026.
“Pas tanggal 22 Januari, kelompok ini resmi didaftar oleh Kelurahan. Sudah ada legalitas. Dan hari ini pas 22 April, mulai panen. Kita harapkan kelompok ini harus berkembang. Para Frater HHK, kalau boleh bisa ijinkan umat perluas lagi. Kalau bisa 1 hektar. Dengan 0,67 saja sudah dapat 3,60 ton. Tiga bulan kerja dapat sekitar Rp 15 juta. Kan harga sekitar Rp 5 ribu/kg. Harus diperluas,” tegas Lurah Lewoleba Barat, Yakobus Manuk.
Dari ngobrol di sela ibadat mingguan.
Umat KBG Louis de Monfort, telah memulai aksi bangun kemandirian berbasis solidaritas. Aksi ini juga mendukung mimpi besar Pemerintah Kabupaten Lembata untuk Kemandirian Pangan dan Ekonomi dari sektor pertanian. (EA)











