Humaniora

Homili; “Melanjut Misi — Merajut Ketekunan; Berbuah Sukacita”

21
×

Homili; “Melanjut Misi — Merajut Ketekunan; Berbuah Sukacita”

Sebarkan artikel ini
RD Kristo Oki

“Melanjut Misi — Merajut Ketekunan; Berbuah Sukacita”

Homili Minggu, 17 Mei 2026

Oleh, Rm Kristo Oki

Bacaan suci;

Kisah Para Rasul 1:12-14; ,  1 Petrus 4:3-16;,  Yohanes 17:1-11a

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Sabda Tuhan mengantar kita ke sebuah suasana yang sangat manusiawi: suasana menunggu, suasana ditinggalkan, suasana belum pasti.

Dalam Kisah Para Rasul, para murid baru saja kembali dari Bukit Zaitun ke Yerusalem. Yesus telah naik ke surga. Secara fisik, mereka tidak lagi melihat Sang Guru. Tetapi mereka tidak tercerai-berai. Mereka tidak pulang ke hidup lama. Mereka naik ke ruang atas, berkumpul, dan “bertekun dengan sehati dalam doa.”

Di sinilah kita melihat benih Gereja. Gereja tidak pertama-tama lahir dari strategi besar, gedung megah, atau organisasi yang kuat. Gereja lahir dari komunitas kecil yang berdoa, sehati, dan tekun. Dalam bahasa Latin, kita dapat mengatakan: “Perseverantia in oratione” — ketekunan dalam doa. Itulah napas pertama Gereja.

Para murid tidak langsung mengerti semuanya. Mereka mungkin masih takut, bingung, dan rapuh. Tetapi mereka memilih tinggal bersama. Ini sangat penting secara psikospiritual. Dalam masa krisis, manusia sering tergoda untuk menyendiri, menyalahkan diri, atau melarikan diri. Tetapi para murid memilih jalan yang menyembuhkan: hadir bersama, berdoa bersama, saling menopang.

Mereka tidak meniadakan rasa takut. Mereka mengolah rasa takut dalam doa. Mereka tidak menyangkal luka. Mereka membawa luka itu ke hadapan Allah.

Inilah kedewasaan iman: bukan tidak punya kecemasan, tetapi tidak membiarkan kecemasan memimpin hidup kita. “In Deo speramus” — dalam Allah kita berharap.

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Petrus berbicara lebih tajam. Petrus mengingatkan jemaat bahwa menjadi murid Kristus berarti berani berbeda. Mereka dahulu hidup dalam hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, dan penyembahan berhala. Tetapi sekarang mereka dipanggil hidup baru. Karena itu, mereka mungkin dicemooh, disalahpahami, bahkan difitnah.

Petrus berkata: jangan heran jika kamu harus menderita karena nama Kristus. Jangan malu menjadi Kristen. Sebaliknya, muliakanlah Allah dalam nama Kristus.

Ini sangat relevan bagi hidup kita. Dalam dunia sekarang, iman sering diuji bukan hanya oleh penganiayaan besar, tetapi oleh tekanan sosial sehari-hari.

Ada orang takut dianggap terlalu rohani. Ada yang malu berbuat jujur karena lingkungan menganggap curang itu biasa. Ada yang takut mempertahankan nilai keluarga karena budaya sekitar meremehkannya. Ada yang lelah berbuat baik karena tidak dihargai.

Di sinilah sisi psikososial umat disentuh. Kita hidup dalam jaringan relasi: keluarga, lingkungan kerja, komunitas, media sosial. Tekanan kelompok bisa membuat kita kehilangan arah. Kita ingin diterima, ingin disukai, ingin aman. Tetapi Petrus mengingatkan: identitas terdalam kita bukan ditentukan oleh komentar orang, melainkan oleh Kristus.

Bahasa Latinnya indah: “Christianus alter Christus” — seorang Kristen adalah Kristus yang lain. Artinya, di mana kita hadir, orang seharusnya merasakan sesuatu dari wajah Kristus: kelembutan-Nya, keberanian-Nya, kesabaran-Nya, dan kebenaran-Nya.

Namun menjadi Kristus yang lain tidak berarti menjadi keras atau menghakimi. Justru Petrus mengingatkan agar jangan menderita karena berbuat jahat, mencuri, membunuh, atau mencampuri urusan orang. Dengan kata lain, penderitaan yang bernilai adalah penderitaan karena kesetiaan, bukan karena kebodohan atau kesalahan kita sendiri. Iman tidak membenarkan sikap arogan. Iman membentuk karakter.

Saudara-saudari,

Puncak Sabda hari ini ada dalam Injil Yohanes. Yesus berdoa kepada Bapa. Ini sering disebut Doa Imam Agung Yesus. Menjelang sengsara-Nya, Yesus tidak pertama-tama panik, melawan, atau melarikan diri. Ia berdoa. Ia berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.”

Kata “kemuliaan” di sini bukan kemegahan duniawi. Kemuliaan Yesus justru tampak dalam salib: kasih yang tuntas, ketaatan yang utuh, pemberian diri tanpa syarat. “Gloria Dei est homo vivens” — kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup. Tetapi hidup yang sejati bukan sekadar bernapas, melainkan hidup dalam relasi dengan Allah.

Yesus berkata bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus-Nya.

Mengenal di sini bukan hanya tahu secara intelektual. Mengenal berarti masuk dalam relasi. Maka iman Kristen bukan sekadar kumpulan ajaran, tetapi perjumpaan pribadi dengan Allah yang mengasihi.

Yang mengharukan, Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya. Ia tahu mereka lemah. Ia tahu mereka akan menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Tetapi Ia menyerahkan mereka kepada Bapa. Pater, serva eos in nomine tuo” — Bapa, peliharalah mereka dalam nama-Mu.

Inilah sumber ketekunan kita. Kita dapat melanjutkan misi bukan karena kita selalu kuat, tetapi karena kita didoakan oleh Kristus. Kita mampu merajut ketekunan bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena kita dipelihara oleh Bapa. Kita dapat berbuah sukacita bukan karena tidak ada salib, tetapi karena salib kita dipersatukan dengan salib Kristus.

Saudara-saudari terkasih,

Tema kita hari ini: “Melanjut Misi—Merajut Ketekunan, Berbuah Sukacita.”

Melanjut misi berarti tidak berhenti pada nostalgia iman. Para murid tidak terus-menerus memandang ke langit. Mereka kembali ke Yerusalem, ke ruang atas, ke komunitas, ke doa, lalu kelak pergi mewartakan Injil. Kita pun dipanggil melanjutkan misi Kristus dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan masyarakat.

Merajut ketekunan berarti membangun iman sedikit demi sedikit. Ketekunan bukan perasaan sesaat. Ketekunan adalah keputusan harian. Tetap berdoa meski kering. Tetap mengampuni meski terluka. Tetap jujur meski rugi. Tetap melayani meski tidak dipuji. Tetap berharap meski belum melihat hasil.

Dan dari ketekunan itu lahirlah sukacita. Sukacita Kristiani bukan tawa dangkal. Sukacita adalah kedamaian batin karena hidup kita berada di tangan Allah. “Gaudium in Domino” — sukacita dalam Tuhan. Sukacita ini dapat hidup bahkan di tengah air mata, karena dasarnya bukan situasi, melainkan kasih Allah yang setia.

Maka, secara psikospiritual, Sabda hari ini mengajak kita menata batin: jangan biarkan takut, luka, dan cemas menjadi pusat hidup. Bawalah semuanya dalam doa. Secara psikososial, Sabda hari ini mengajak kita membangun komunitas yang menyembuhkan: keluarga yang saling mendengar, lingkungan yang saling menopang, Gereja yang tidak mudah menghakimi, tetapi meneguhkan.

Jangan berjalan sendirian. Para murid bertekun “sehati.” Maria hadir bersama mereka. Kehadiran Maria mengingatkan kita bahwa ketekunan sering lahir dari hati yang hening, percaya, dan setia. “Fiat voluntas tua” — terjadilah kehendak-Mu.

Saudara-saudari,

Mari kita pulang dari Ekaristi ini dengan tiga sikap sederhana berikut :

Pertama, bertekunlah dalam doa. Jadikan doa bukan pelarian, tetapi sumber kekuatan.

Kedua, jagalah persekutuan. Jangan biarkan luka membuat kita menjauh dari Gereja dan sesama.

Ketiga, lanjutkan misi Kristus. Jadilah tanda pengharapan di tengah keluarga, pekerjaan, lingkungan, dan masyarakat.

Semoga kita menjadi umat yang tidak mudah menyerah, tidak mudah pecah, dan tidak kehilangan sukacita. Sebab Kristus telah berdoa bagi kita, Bapa memelihara kita, dan Roh Kudus meneguhkan kita.

Ad maiorem Dei gloriam — demi kemuliaan Allah yang lebih besar.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *