Rohani

Homili; “Sabda yang Ditabur dalam Hati Yang Subur  Tidak Pernah Sia-Sia”

7
×

Homili; “Sabda yang Ditabur dalam Hati Yang Subur  Tidak Pernah Sia-Sia”

Sebarkan artikel ini

“Sabda yang Ditabur dalam Hati Yang Subur  Tidak Pernah Sia-Sia”

Oleh; RD Kristo Oki

 

Bacaan I: Yesaya 55:10–11

Bacaan II: Roma 8:18–23

Injil: Matius 13:1–23

 

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan!

Pada hari Minggu ini, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat petani, yakni perumpamaan tentang seorang penabur yang keluar untuk menaburkan benih.

Sebagian benih jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya. Sebagian jatuh di tanah berbatu. Benih itu segera tumbuh, tetapi karena tidak berakar, tanaman itu menjadi layu ketika matahari terbit. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berduri. Benih itu tumbuh, tetapi semak berduri menghimpitnya sampai mati. Sedangkan sebagian benih jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah: ada yang seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat.

Benih yang ditaburkan itu adalah Sabda Allah. Penaburnya adalah Tuhan sendiri. Sedangkan tanah tempat benih itu jatuh adalah hati setiap manusia.

Hal pertama yang dapat kita renungkan ialah bahwa Tuhan adalah Penabur yang murah hati. Ia menaburkan benih ke mana-mana. Tuhan tidak hanya menabur di tanah yang sudah baik. Ia juga menabur di tanah yang keras, tanah berbatu, dan tanah yang dipenuhi duri.

Artinya, Tuhan tidak pernah kehilangan harapan terhadap manusia.

Tuhan tetap menyampaikan Sabda-Nya kepada orang yang taat maupun kepada orang yang keras hati. Tuhan berbicara kepada orang yang setia maupun kepada orang yang mulai menjauh. Tuhan memanggil orang yang hidupnya teratur, tetapi juga mencari orang yang hidupnya sedang kacau dan penuh persoalan.

Tuhan terus menabur karena Ia percaya bahwa hati manusia dapat berubah. Tanah yang keras dapat digemburkan. Batu-batu dapat disingkirkan. Semak berduri dapat dibersihkan. Hati yang semula tertutup dapat menjadi hati yang subur.

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya menegaskan keyakinan itu. Tuhan bersabda bahwa seperti hujan dan salju turun dari langit, mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tanaman, demikian pula firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia. Firman itu akan melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dan berhasil dalam apa yang diperintahkan-Nya.

Sabda Allah mempunyai daya yang menghidupkan.

Sabda itu dapat menghibur orang yang berduka. Sabda itu dapat menguatkan orang yang putus asa. Sabda itu dapat menegur orang yang berjalan pada jalan yang salah. Sabda itu dapat menyembuhkan hati yang terluka. Sabda itu dapat membangkitkan kembali iman yang hampir padam.

Namun, hasil dari Sabda itu sangat bergantung pada keadaan hati yang menerimanya.

Saudara-saudari terkasih,

Yesus menunjukkan empat keadaan hati manusia :

Yang pertama adalah hati seperti pinggir jalan.

Pinggir jalan menjadi keras karena sering diinjak. Benih tidak dapat masuk ke dalam tanah. Benih itu hanya berada di permukaan, lalu segera hilang.

Demikian pula ada orang yang mendengar Sabda Tuhan, tetapi Sabda itu hanya berhenti di telinga. Ia hadir dalam perayaan Ekaristi, mendengar bacaan, mendengar homili, tetapi Sabda itu tidak pernah masuk ke dalam keputusan dan cara hidupnya.

Sabda Tuhan berkata, “Ampunilah sesamamu,” tetapi ia tetap menyimpan dendam.

Sabda Tuhan berkata, “Kasihilah musuhmu,” tetapi ia tetap memelihara kebencian.

Sabda Tuhan berkata, “Jangan menghakimi,” tetapi ia terus membicarakan kelemahan orang lain.

Sabda Tuhan berkata, “Bertobatlah,” tetapi ia selalu merasa bahwa hanya orang lain yang bersalah.

Hati menjadi keras karena kesombongan, kekecewaan, kebencian, dosa yang dipelihara, dan ketidakmauan untuk berubah.

Yang kedua adalah hati seperti tanah berbatu.

Benih di tanah berbatu segera tumbuh, tetapi tidak mempunyai akar. Ketika matahari terbit, tanaman itu layu.

Ini adalah gambaran iman yang hanya bersemangat untuk sementara. Orang dengan gembira menerima Sabda Tuhan. Ia rajin berdoa ketika hidupnya berjalan baik. Ia memuji Tuhan ketika permohonannya dikabulkan. Namun, ketika datang kesulitan, penyakit, kegagalan, persoalan ekonomi, atau konflik dalam keluarga, ia segera kecewa dan meninggalkan Tuhan.

Iman seperti ini belum berakar.

Iman yang berakar bukanlah iman yang bebas dari masalah. Iman yang berakar adalah iman yang tetap bertahan ketika masalah datang. Akar iman bertumbuh melalui doa yang setia, pembacaan Kitab Suci, penerimaan sakramen, kesediaan memikul salib, dan ketekunan melakukan kebaikan.

Yang ketiga adalah hati seperti tanah yang dipenuhi semak berduri.

Benih itu tumbuh, tetapi dihimpit oleh duri-duri sampai tidak menghasilkan buah. Yesus menjelaskan bahwa duri-duri itu adalah kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan.

Kita mungkin telah menerima Sabda Tuhan. Kita mempunyai niat untuk menjadi baik, jujur, murah hati, dan setia. Namun, niat itu sering dihimpit oleh kesibukan, kecemasan, ambisi, keinginan memiliki banyak harta, keinginan untuk dipuji, iri hati, serta rasa takut kehilangan kedudukan.

Manusia dapat begitu sibuk mencari kebutuhan hidup sehingga melupakan sumber kehidupan.

Orang tua dapat begitu sibuk mencari uang bagi keluarga, tetapi tidak lagi mempunyai waktu untuk berdoa dan berbicara bersama anak-anak.

Kita dapat memiliki banyak harta, tetapi kehilangan kedamaian. Kita dapat mempunyai banyak kenalan, tetapi kehilangan persaudaraan. Kita dapat kelihatan berhasil di mata manusia, tetapi menjadi kering di hadapan Tuhan.

Yang keempat adalah hati seperti tanah yang subur.

Tanah yang subur adalah orang yang mendengar Sabda, memahami, menyimpannya di dalam hati, dan melaksanakannya dalam kehidupan.

Hati yang subur bukanlah hati manusia yang tidak mempunyai kelemahan. Hati yang subur adalah hati yang mau dibentuk Tuhan. Ia bersedia ditegur, bersedia bertobat, bersedia mengampuni, dan bersedia memulai kembali.

Ketika Sabda Tuhan berkata, “Ampunilah,” ia mulai berusaha mengampuni.

Ketika Sabda berkata, “Jangan takut,” ia belajar berserah.

Ketika Sabda berkata, “Kasihilah orang kecil,” ia membuka tangan untuk menolong.

Ketika Sabda berkata, “Pikullah salibmu,” ia tetap setia walaupun perjalanan hidupnya tidak mudah.

Di dalam hati seperti inilah Sabda Tuhan menghasilkan buah.

Saudara-saudari terkasih,

Pertumbuhan benih tidak selalu langsung terlihat. Setelah ditaburkan, benih masuk dan tersembunyi di dalam tanah. Beberapa waktu seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, dalam keheningan tanah sedang berlangsung suatu proses kehidupan.

Demikian pula Sabda Tuhan.

Doa orang tua bagi anak-anaknya mungkin belum langsung menunjukkan hasil. Nasihat seorang guru mungkin belum langsung diterima oleh muridnya. Pelayanan seorang imam, katekis, pengurus umat, atau anggota kelompok rohani mungkin belum langsung menghasilkan perubahan. Kebaikan yang kita lakukan mungkin tidak segera dihargai.

Namun, jangan pernah berhenti menabur.

Sabda yang ditaburkan dengan iman tidak pernah sia-sia. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah hilang. Doa yang dinaikkan dengan penuh harapan tidak pernah percuma.

Pada saat yang ditentukan Tuhan, benih itu akan tumbuh.

Nasihat yang dahulu ditolak dapat diingat kembali. Teladan yang sederhana dapat menjadi cahaya bagi orang lain. Doa yang tampaknya tidak terkabul dapat menghasilkan keteguhan dan kekuatan. Kebaikan kecil dapat melahirkan perubahan besar.

Tugas kita adalah menabur dan memelihara. Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan.

Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa seluruh ciptaan mengeluh dan merasa sakit seperti seorang perempuan yang sedang melahirkan. Gambaran ini menunjukkan bahwa kehidupan baru sering lahir melalui perjuangan dan penderitaan.

Menjadi tanah yang subur juga membutuhkan proses. Tanah hati harus dicangkul oleh pertobatan. Batu kesombongan harus disingkirkan. Duri kebencian harus dibersihkan. Tanah yang kering harus disirami dengan doa, Ekaristi, dan kasih.

Proses itu mungkin tidak nyaman, bahkan menyakitkan. Namun, dari proses itulah lahir buah kehidupan yang baru.

Pada hari Minggu ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: tanah seperti apakah hati saya?

Apakah hati saya keras karena tidak mau mendengar Tuhan? Apakah iman saya dangkal dan mudah layu ketika menghadapi kesulitan? Apakah Sabda Tuhan dihimpit oleh kecemasan, kesibukan, dan keinginan duniawi? Ataukah saya sedang berusaha menjadi tanah yang subur?

Marilah kita berdoa:

Tuhan, gemburkanlah tanah hati kami. Singkirkanlah batu kesombongan, duri kebencian, kekhawatiran, dan kekerasan hati kami. Taburkanlah Sabda-Mu dalam diri kami. Semoga Sabda itu bertumbuh menjadi iman yang teguh, pengharapan yang kuat, dan kasih yang nyata kepada sesama.

Sebab Sabda yang ditabur dalam hati yang subur tidak pernah sia-sia. Sabda itu akan tumbuh, menghasilkan buah, dan mengubah kehidupan.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *