Kabar Rakya Terkini, Lembata_Hajatan massal Felita (Festival Literasi Lembata) 2026, Kabupaten Lembata, hampir dipastikan mengalami eskalagi manajerial lantaran sejumlah kriteria kegiatan yang tak lazim dengan jumlah partisipan menembus angka 500 orang.
Dua kriteria tak lazim adalah larangan membawa dan menggunakan handphone bagi peserta kategori siswa yang jumlahnya mencapai 410 orang. Selain tanpa handphone, Felita 2026 juga bakal kembali mempraktikan pola zero sampah plastik dari kegiatan konsumsi harian. Semau peserta diwajibkan membawa peralatan makan dan minum seperti piring/wadah makanan, senduk dan gelas/botol/tumbler masing-masing.
Bagi Anselmus Asan Ola, dua kriteria ini memang tantangan pada level kepatuhan peserta namun pihaknya optimis dengan pengalaman pada Felita 2025.
“Tahun lalu kita sudah sukses dengan zero sampah plastik. Semua menu makanan disiapkan prasmanan. Tidak ada kotak makanan yang lalu jadi sampah. Panitia juga siapkan sejumlah gallon-dispencer yang bisa diakses untuk air minum. Peserta gunakan peralatan pribadi. Tahun ini sedikit menantang, yahh..eskalasi di level manajerial tentunya karena peserta membludak. Hampir 500 untuk siswa dan guru. Itu di luar panitia, tahun lalu hanya 200-an peserta dari 21 sekolah,” pungkas Ansel Asan Ola, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Lembata.
Tantangan baru untuk Felita 2026 adalah larangan membawa dan mengakses HP bagi peserta siswa. Namun menurut Ansel Ola, kriteria ini berkorelasi langsung dengan pilihan tema literasi yakni ekologi dan budaya. Pihaknya menghadirkan satu literasi dengan model klinik yakni Permainan rakyat.
“Permainan rakyat adalah salah satu metode untuk berliterasi bersama anak. Dan ini model yang sangat terkait interaksi sosial antar anak. Akan jadi hambar kalau anak justru banyak sibuk dengan kesibukan pribadi, misalnya scrolling konten hiburan media sosial menggunaka HP.. Felita harus jadi ruang untuk berbagi antar peserta, ” tambah Ansel.
Peniadaan Handphone sebagai perlengkapan personal peserta Felita 2026 juga terkait upaya mengembalikan pola belajar anak berbasis teks dan menulis dengan tangan dan bukan berbasis akses informasi HP. Thomas Krispinus Swalar, salah satu pendamping lomba Resensi Buku menyebutkan, pihaknya juga mendesain kegiatan lomba tanpa dukungan HP dan akses internet.
“Kita tidak hanya fokus pada hasil lomba resensi. Kita ingin anak berproses dalam membaca, menganalisa dan menulis karya resensinya hanya dengan referensi buku teks. Bukan referensi digital. Dan resensinya bukan diketik tapi tulis tangan. Saya yakin kita semua sepakat bahwa karya tulisan tangan itu lebih unggul untuk merangsang perkembangan otak, serta meningkatkan memori dan daya ingat ketimbang mengetik. Dan pola itu yang kami pakai,” terang Thomas Krispinus, salah satu panitia Felita 2026 yang juga produktif sebagai penulis sejumlah karya sastra di Lembata.
Meski ada tantangan, hajatan Felita 2026 yang akan berlangsung pada 10-12 Mei 2026 diharapkan bisa membangun keyakinan soal literasi dan numerasi dasar tanpa teknologi sebagai bekal kapasitas baca, tulis, berhitung dan kemampuan analisis peserta. (EA)











