Kabar Rakyat Terkini, Lembata._Kabar penemuan ulat dalam menu makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada omprengan salah satu siswa TK Negeri 3 Nubatukan Kabupaten Lembata ditampik pengelolah SPPG 01 Lembata selaku pemasok.
Pihak pengelola bersikukuh tidak menemukan adanya ulat dalam makanan dan merasa janggal, lantaran dari total 3200 ompreng makananan yang didistribusikan, hanya 1 ompreng yang disebut pihak sekolah mengandung ulat.
Sementara Guru TK Negeri III bahkan bersumpah soal temuan ulat dalam daging ayam bagian sayap, milik peserta didiknya. Apalagi ada sejumlah orang tua yang jadi saksi termasuk ada bukti video yang sudah tersebar luas.
“Dengan kejadian ini, minta maaf. Tapi saya merasa aneh. Bahwa dari 3200 ompreng yang keluar, hanya satu yang berulat. Ulatnya masih hidup, loncat-loncat. Yach mungkin, daging itu waktu dibalik bumbu, kena panas juga, tidak mati? Kalau misalnya saya diberitahu, ibu ada ulat, ulat mati, saya lebih ini (yakin, red) gitu! “ tegas Hani Chandra menanggapi kronologis yang dipaparkan Ibu Minda, salah satu guru TK Negeri III Nubatukan.
Sebelumnya diberitakan, Ibu Minda menjelaskan, dirinya melihat langsung adanya ulat dalam daging ayam yang ada dalam ompreng MBG milik salah satu peserta didiknya.
“Jadi kemarin itu, saya bersama anak-anak, damping mereka untuk makan, setelah diantar oleh petugas SPPG. Setelah doa, mereka semua buka ompreng dan makan. Tiba-tiba salah satu anak berteriak, Ibu, ada ulat di bagian sayap. Saya dalam posisi duduk lesehan jadi kaget dan waktu bangun mau lihat, beberapa anak lain sudah ikut lihat. Ada orang tua langsung ambil hp dan rekam videonya. Saya minta mereka rekam dan bersama saya agar saya tidak mau dibilang mengada-ada. Jadi saya dan ada beberapa orang tua. ” papar Ibu Minda.
Beda pendapat pihak sekolah dan pengelolah SPPG 01 ini terjadi, saat temu klarifikasi soal temuan ulat dalam menu MBG di TK Negeri III Nubatukan, pada Kamis 16 April 2026.
Pertemuan di pekarangan sekolah tersebut dihadiri Wakil Bupati Lembata, Wenseslaus Pukan, Rosadalima Tuto salah satu Kepala Bidang pada Dinas Kesehatan Lembata, Babinsa dan tim SPPG 01.
Pertemuan di pekarangan sekolah tersebut dihadiri Wakil Bupati Lembata, Muhammad Nasir , Kadis Pendidikan Wenseslaus Pukan, Rosadalima Tuto salah satu Kepala Bidang pada Dinas Kesehatan Lembata,Babinsa dan tim SPPG 01.
Kedua pihak sama-sama bertahan dengan argumentasi, berbasis barang bukti omprengan berisi daging ayam dengan persepktif berbeda.
Berbekal video rekaman, pelibatan orang tua sebagai saksi, serta metode periksa ulat dengan alat tusuk gigi, Ibu Minda pastikan pihaknya melihat sendiri adanya ulat dalam daging ayam bagian sayap. Daging ayam yang sama pula yang kemudian dibawa pulang petugas SPPG dari sekolah.
Sementara, pengelola SPPG menyangsikan adanya ulat karena salah satu petugas sampai mensuwir-suwir daging namun tak menemukan keberadaan ulat.

Mereka juga merasa aneh karena ulat hanya terdapat pada 1 dari dari 3200 ompreng yang mereka siapkan dan distribusikan pada Kamis 16 April 2026, kemarin.
Terlepas dari perbedaan pengakuan dan kesaksian pihak sekolah dan SPPG 01, Wakil Bupati Lembata Muhamad Nasir menegaskan pentingnya semua pihak tetap berpegang teguh pada pemenuhan standar yakni kesehatan dan keselamatan siswa.
“Terhadap apa yang terjadi saat ini, saya hanya mau tegaskan, kita tegak lurus pada standar yakni harus tertuju pada Kesehatan dan Keselamatan siswa. Itu diatas segala-galanya. Itu merupakan panglima, dia hukum tertinggi. Itu harus diingat sebagai konsekuensi jika kita terlibat dan menerima program (MBG, red) ini. “ tegas Muhamad Nasir kepada semua sekolah dan SPPG 01.
Nasir juga menghimbau agar kasus serupa tidak boleh terulang lagi. Ia meminta semua pihak untuk meningkatkan edukasi terutama pihak sekolah agar prosedur penyediaan, distribusi makanan tidak menimbulkan masalah yang mengorbankan keselamatan dan kesehatan anak-anak. (EA)











