Gagasan

Renungan Singkat Menyegarkan; “Religiositas: Subur di Luar Tanpa Isi”

4
×

Renungan Singkat Menyegarkan; “Religiositas: Subur di Luar Tanpa Isi”

Sebarkan artikel ini
RD Kristo Oki
“Religiositas: Subur di Luar Tanpa Isi”
Oleh; RD Kristo Oki
Bacaan Injil
Mrk 11:11-26
Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
Percayalah kepada Allah!
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada waktu Yesus tiba di Yerusalem, 
Ia masuk ke Bait Allah,  dan meninjau semuanya.
Tetapi karena hari sudah hampir malam, 
Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.
Keesokan harinya, 
sesudah mereka itu meninggalkan Betania, 
Yesus merasa lapar.
Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. 
Ia mendekatinya untuk melihat 
kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. 
Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa 
selain daun-daun saja, 
sebab memang bukan musim buah ara.
Maka kata Yesus kepada pohon itu, 
“Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” 
Ucapan itu terdengar pula oleh para murid.
Maka Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. 
Sesudah masuk ke Bait Allah, 
mulailah Yesus mengusir orang-orang 
yang berjual beli di halaman Bait Allah. 
Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,
dan Ia tidak mengijinkan orang 
membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.
Lalu Ia mengajar mereka, 
“Bukankah ada tertulis: 
Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? 
Tetapi kalian ini telah menjadikannya sarang penyamun!”
Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar 
tentang peristiwa itu.
Maka mereka berusaha untuk membinasakan Yesus. 
Tetapi mereka takut kepada-Nya, 
sebab mereka melihat orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.
Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.
Pagi-pagi Yesus dan murid-murid-Nya lewat, 
dan melihat bahwa pohon ara itu sudah kering 
sampai ke akar-akarnya.
Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, 
lalu berkata kepada Yesus, 
“Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.”
Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah!
Aku berkata kepadamu: 
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung itu, 
‘Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut,’
maka hal itu akan terjadi, asal ia tidak bimbang hati, 
tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi.
Karena itu Aku berkata kepadamu, 
apa saja yang kalian minta dan doakan, 
akan diberikan kepadamu, 
asal kalian percayalah bahwa kalian akan menerimanya.
Dan jika kalian berdiri untuk berdoa, 
ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga 
mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Tetapi jika kalian tidak mengampuni, 
maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.
Demikianlah sabda Tuhan.
Dalam Markus 11, kisah pohon ara yang tidak berbuah mengapit peristiwa Yesus menyucikan Bait Allah. Ini bukan kebetulan. Pohon ara yang rimbun daunnya tetapi tidak berbuah menjadi gambaran tajam tentang keadaan rohani umat: tampak hidup, ramai, dan religius, tetapi kehilangan buah yang Tuhan cari.
Bait Allah pada zaman itu tetap ramai dengan aktivitas keagamaan. Ada korban, jual beli, lalu lintas ritual, dan suasana ibadah. Dari luar tampak “subur” secara agama. Namun Yesus melihat lebih dalam: rumah doa telah berubah menjadi sarang penyamun. Ritus masih berjalan, tetapi hati menjauh dari Allah. Ibadah masih ramai, tetapi keadilan, belas kasih, doa yang tulus, dan pertobatan sejati menjadi mandul.
Di sinilah hubungan pohon ara dan Bait Allah menjadi sangat kuat. Pohon ara itu berdaun tanpa buah; Bait Allah ramai ritus tanpa realitas. Keduanya tampak menjanjikan, tetapi mengecewakan ketika Tuhan mendekat. Yesus sedang menegur religiositas yang hanya indah di permukaan: fasih beribadah, tetapi gagal mengasihi; rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni; aktif dalam ritus, tetapi tidak jujur dalam hidup; tampak saleh di ruang ibadah, tetapi kering kasih dalam realitas sehari-hari.
Firman ini mengajak kita memeriksa diri. Jangan sampai iman kita hanya menjadi daun: terlihat hijau, rapi, dan subur, tetapi tidak menghasilkan buah pertobatan. Tuhan mencari buah, bukan sekadar penampilan rohani. Ia mencari doa yang melahirkan pengampunan, ibadah yang melahirkan keadilan, dan iman yang nyata dalam kasih.
Quotes RESIMEN:
“Religiositas sejati bukan diukur dari rimbunnya ritus, tetapi dari buah iman dalam realitas.”
Doa Singkat:
Tuhan Yesus, sucikan hatiku dari ibadah yang hanya tampak indah di luar. Jadikan hidupku tidak mandul dalam kasih, tetapi berbuah dalam doa, pengampunan, kejujuran, dan ketaatan. Amin.
Slogan RESIMEN:
Segar FirmanNya – Kuatkan Iman – Nyatakan Kasih
Selamat memaknai hari.
Doaku: Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *