HukumKabar Berita

Tuntut Otopsi, Ayah Alm. Prada Lucky Saputra Namo Cari Rumah Sakit

93
×

Tuntut Otopsi, Ayah Alm. Prada Lucky Saputra Namo Cari Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini. Kota Kupang_Tak terima jasad anaknya yang diduga meninggal tak wajar, karena diduga menjadi korban penganiayaan rekan dan seniornya tak bisa diotopsi, seorang anggota TNI di Kupang Nusa Tenggara Timur, mengamuk dan memaksa membawa pulang jasad anaknya dari kamar jenazah RST Wirasakti. Putranya, Prada Lucky Saputra Namo. 23 tahun.  yang merupakan angota TNI Batalyon TP 834 Waka Nga Mere, di Kabupaten Nagekeo, Flores, tewas pada hari Rabu 06 Agustus 2025, usai 3 hari dirawat di rumah sakit Aeramo.

Kemarahan Sersan Mayor Christian Namo, anggota Kodim 1627 Rote Ndao, tak bisa terbendung, ketika dirinya mengetahui jasad anaknya,  Prada Lucky Saputra Namo, tak bisa diotopsi  karena tidak adanya dokter forensik, di RST Wirasakti.

Tentara yang bertugas di wilayah Kabupaten Rote Ndao ini pun murka, dan memaksa mengambil kembali jasad anaknya, untuk mencari rumah sakit lain yang memiliki dokter forensik.

Situasi ini  membuat puluhan keluarga yang hadir, pecah dalam tangis kekecewaan, saat mobil jenazah membawa peti jenazah Prada Lucky ke rumah Sakit Bhayangkara Titus Ully,  mencari dokter forensik untuk diotopsi.

Kondisi ini pun membuat Letda Made Juni,  salah seorang perwira yang  turut mengantar jasad Alm. Prada Lucky dari Nagekeo, tak bisa berbuat banyak. Made mengaku pihaknya telah membantu keluarga almarhum, termasuk mengurus visum yang bakal diserahkan kepada keluarga.

“Saya bukan dokter tapi saya ketua kompi 834. Kami sudah berupaya di sana, kami sudah membawa ke rumah sakit tapi Tuhan lebih sayang Lucky. akhirnya Lucky sampai seperti ini. Kami telah berupaya yang terbaik, kami fasilitasi semuanya di sana. Visum keluar atas dasar penyelidikan. Ada visum luar. pihak rumah sakit Nagekeo menjanjikan akan diberikan kepada keluarga,” papar Letda Made Juni.

Prada Lucky Namo yang baru lima bulan menjadi anggota TNI Angkatan Darat ini, tewas mengenaskan, setelah diduga menjadi korban penganiayaan rekan dan seniornya, di batalyon 834 Waka Nga Mere, yang berada di Kabupaten Nagekeo,  Flores awal pekan ini.

Akibat  luka di tubuhnya, anak kedua Serma Christian ini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Setelah dirawat tiga hari, Prada Lucky meninggal dunia di ruang ICU RSUD Aeramo, Rabu 06 Agustus 2025.

Pada foto yang beredar,  terdapat luka luka pada punggung korban, yang terlihat cukup besar dan dalam.  Diduga akibat luka-luka itu, prajurit berusia 23 tahun ini akhirnya meninggal dunia.

Kematian putra kebanggaannya, membuat Serma Christian Namo  berang. dan menuntut agar pelaku penganiayaan putranya dihukum.

“Saya berjiwa merah putih,  saya hanya menuntut kebenaran, siapa yang bertanggungjawab,” teriaknya di pelataran parkir RS Titus Ully, mela,piaskan kekecewaannya.

Ayah Prada Lucky menginginkan jasad anaknya diotopsi, untuk memastikan penyebab kematian putranya, karena ditemukan bekas luka di sekujur tubuh anaknya.

Namun keinginan keluarga korban belum bisa terpenuhi,  karena sejumlah hal yang mesti dipersiapkan terlebih dahulu.

Akhirnya setelah percakapan dengan sejumlah perwira, keluarga membawa peti jenazah Prada Lucky ke rumah dinas ayahnya, di kawasan Asrama Tentara Kuanino.

Di rumahnya,  ayah Prada Lucky pun kembali mengungkapkan kekecewaannya,  dan menangisi kematian putranya yang sia-sia, diduga akibat kekerasan fisik, yang melibatkan sesama prajurit di kesatuannya.

Keluarga pun berharap agar kematian Prada Lucky mendapat perhatian pimpinan TNI, dan semua pelaku yang menganiaya korban hingga tewas untuk dihukum sesuai aturan yang berlaku.

Peti jenazah Prada Lucky diterbangkan dengan pesawat Wings Air dari bandara Haji Aboerusman Ende, Kamis 07 Agustus 2025 siang. Peti jenasahnya pun dievakuasi ke RST Wirasakti untuk keperluan otopsi. Namun karena sesuatu hal, rencana otopsi tidak bisa terlaksana.

@RedaksiKRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *