DesaKabar BeritaKesehatanPangan

Tren Menurun, Pemkab Lembata Targetkan Zero Stunting

10
×

Tren Menurun, Pemkab Lembata Targetkan Zero Stunting

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata merilis data prevalensi stunting yang menunjukkan tren penurunan. Dinkes mencatat stunting  15,9% pada tahun 2022, menjadi 9,4% di 2023, dan tinggal6,8% pada 2024.

Hasil ini muncul saat kegiatan Evaluasi Intervensi Spesifik Stunting Kabupaten Lembata yang digelar pada Rabu, (26/11) di Olimpic Ballroom, Lewoleba.

Tren penurunan ini diapresiasi Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir.  Nasir pun tetap mengharapkan kerja kolaboratif untuk pencapaian target Pemkab Lembata menuju zero stunting.

“Penanganan stunting adalah gerakan bersama. Kita akan terus membangun kerja sama dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder. Berbagai capaian yang kita raih jangan membuat kita lengah. Perjalanan kita masih panjang untuk mencapai zero stunting. Tapi kita harus bisa mencapainya,” ajak Nasir dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan evaluasi.

Stunting merupakan masalah gizi kronis, yang berdampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia.

Secara nasional, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi sebesar 30,8%.

Melalui upaya berkelanjutan pemerintah, SSGI 2024 menunjukkan penurunan signifikan menjadi 19,8%, lebih rendah dari proyeksi Bappenas sebesar 20,1% dan mendekati standar WHO.

Di Kabupaten Lembata, prevalensi stunting menurun dari 15,9% (2022) menjadi 9,4% (2023) dan 6,8% (2024), namun masih ada disparitas wilayah yang perlu diatasi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Lembata, Rosadelima Tuto, melaporkan bahwa, berdasarkan ePPGBM, prevalensi stunting menurun, namun SSGI 2024 mencatat prevalensi stunting Lembata sebesar 25,7%, underweight 31,7%, dan wasting 21%.

Dua variabel terakhir yakni underweight dan wasting menuntut kerja ekstra untuk penurunan persentasinya.

Underweight adalah kondisi kurang gizi yang berbeda, di mana stunting adalah tinggi badan yang terlalu pendek untuk usia, sedangkan underweight adalah berat badan yang terlalu rendah untuk usia.

Keduanya adalah indikator malnutrisi yang dapat disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, namun stunting bersifat kronis sementara underweight bisa akut atau kronis tergantung penyebabnya.

Sedangkan Wasting adalah kekurangan gizi akut (berat badan rendah dibandingkan tinggi badan) yang bisa terjadi dengan cepat, sedangkan stunting adalah kekurangan gizi kronis (jangka panjang) yang menghambat pertumbuhan tinggi badan.

Keduanya adalah bentuk malnutrisi yang berbeda, tetapi saling terkait.

Episode wasting dapat berkontribusi pada stunting, dan anak yang mengalami keduanya memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.

Pemerintah Kabupaten Lembata akan memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan data, serta pendekatan lapangan yang lebih presisi.

“Mari terus kita jaga tren positif ini. Dengan bekerja lebih dekat dengan masyarakat, kita dapat mewujudkan Lembata yang maju, lestari, dan berdaya saing.” ajak Nasir kepada semua pihak.

Kegiatan ini dihadiri Ketua Komisi 3 DPRD, Asisten 1 Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Kepala Dinas Kesehatan, dan unsur pendukung program stunting lainnya.

Pemerintah Kabupaten Lembata berharap percepatan penurunan stunting dapat berlangsung merata di seluruh wilayah dan mendukung pencapaian target pembangunan daerah.

@RedaksiKRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *