BudayaDesaInternasionalKabar BeritaPolitikRohani

Lembata Rayakan Hari Toleransi International, Bupati Minta Perbedaan Jadi Perekat

36
×

Lembata Rayakan Hari Toleransi International, Bupati Minta Perbedaan Jadi Perekat

Sebarkan artikel ini

embata Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Jalanan utama kota Lewoleba, kabupaten Lembata Minggu, petang (16/05) sangat ramai. Mendung tak menyurutkan semangat sejumlah besar warga yang terlibat dalam karnaval merayakan Hari Toleransi Internasional. Semua tokoh lima agama hadir, yakni  Katolik,Protestan, Hindu, Budha dan islam, Karvanal panjang yang disemaraki aksi drumband sejumlah sekolah ini berujung di Taman Swaolsa Tite Lewoleba. UNESCO menetapkan 16 November sebagai peringatan tentang toleransi global sejak tahun 1995 dan untuk pertama kalinya Lembata memperingati momen sarat pesan sosial ini.

Belasan komunitas berbagai etnis dan kelompok kategorial agama bersemangat meramaikan karnaval. Start dari perlimaan Patung Anton Enga Tifaona Wangatoa Kelurahan Selandoro Kecamatan Nubatukan, karnaval berakhir di Taman Swaolsa Tite Lewoleba.

Event yang digelar Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lembata ini,  mengemban misi  memupuk persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama serta kelompok etnis.

“Kita merancang kegiatan ini sebagai wujud nyata dari toleransi yang selama ini selalu didengungkan tetapi belum diwujudkan secara nyata seperti ini,” ungkap Karolus Kumbala, ketua panitia.

Olehnya, FKUB menghadirkan sebanyak-banyaknya etnis untuk memperkuat seruan moral dalam menjaga situasi agar tetap kondusif.

“Kita harus menjaga dan merawat kerukunan ini agar hidup kita menjadi lebih aman dan situasi kamtibmas tetap terjaga,” ujar Karolus..

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, H. Jamaludin Malik mengatakan, kegiatan ini adalah gerakan nyata untuk menghadirkan toleransi.

“Tidak hanya dalam konsep kitab suci saja, kita wujudkan kebersamaan melalui gerakan ini. Kita lihat hampir semua komponen paguyuban dan etnis hadir, seperti Jawa, Sulawesi, Bima, Flores, dan Sumba. Inilah kekayaan kita,” paparnya.

Malik menekankan bahwa semua agama memiliki doktrin yang sama untuk saling menyayangi.

Momen Hari Toleransi Internasional ini dimanfaatkan untuk mengajak semua komponen masyarakat menunjukkan kebersamaan tersebut dalam kehidupan nyata.

Sejumlah acara bertema toleransi ditampilkan mulai dari teater, qasidah, fragmen, tarian, monolog dan teater.

Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Lembata, Petrus Kanisius Making berkenan menyalakan obor NKRI, yang dilanjutkan dengan doa syukur toleransi dan kerukunan oleh masing-masing tokoh agama dan pembacaan pernyataan seruan moral Toleransi dan kerukunan.

Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Badan (Kaban) Kesbangpol Lembata, Petrus Kanisius Making, Bupati Lembata mengatakan peringatan Hari Toleransi Internasional adalah momentum yang mengingatkan kita semua, bahwa keragaman adalah kekayaan dan kekuatan bagi bangsa kita.

“Toleransi bukanlah sesuatu yang tercipta begitu saja, melainkan harus terus dibentuk dan dipertahankan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari”, ungkapnya.

Karena itu Peringatan Hari Toleransi Internasional, menurut Bupati Lembata, bukan sekadar seremonial, tetapi kesempatan bagi kita semua untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan saling menghargai dalam keberagaman.

“Indonesia juga Lembata, kabupaten kita tercinta adalah rumah besar yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang suku, agama, ras, dan budaya yang beragam. Dan dari keberagaman itulah kita menjadi kuat dan kaya akan nilai-nilai sosial serta budaya. Untuk itu, saya minta kita semua untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Karena perbedaan itu bukan pemisah, itu semua harus jadi perekat agar kita jadi kaya”, papar Bupati Lembata dalam sambutannya.

Bupati Lembata juga mengajak masyarakat Lembata agar mengamalkan nilai-nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika, di mana perbedaan keyakinan, suku, dan budaya tidak menjadi penghalang untuk kita saling mengenal, berkolaborasi dalam kebaikan, dan menjaga persaudaraan dalam kemanusiaan.

“Sebagai Pemerintah, kami tetap berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya Suasana yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Namun semua itu tidak akan berhasil tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, paguyuban-paguyuban, hingga generasi muda yang menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai toleransi di lingkungan masing-masing”, kata Bupati Lembata.

@RedaksiKRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *