Kabar Rakyat Terkini, Kota Kupang_Prosesi Galilea, eksperesi iman sukacita kebangkita Kristus, memeriahkan perayaan Paskah 2026 di kota Kupang, Nusa Tengggara Timur. Prosesi yang menjadi puncak rangkaian perayaan Paskah ini dimotori pemuda Gereja Masehi Injili di Timor, pada hari Minggu, (5/4/2026) siang, di kawasan Pantai Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Kupang.
Prosesi Galilea ini memuncak pada perjamuan Paskah bersama, di Pantai LLBK, berupa makan roti dan ikan, yang merefleksikan kisah Yesus yang menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di Danau Galilea. Prosesi ini dapat menjadi destinasi wisata religi baru di NTT.

Para pemuda pun menggelar dramatisasi kisah biblis, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid-Nya di danau Galilea. Momentum ini menjadi simbol perjumpaan, pemulihan, dan penguatan iman umat.
Ketua Panitia Paskah Pemuda GMIT 2026, Simson Polin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengingatkan kembali peristiwa kebangkitan Yesus, menguatkan iman melalui permenungan perjalanan ke Galilea, serta mempererat persekutuan jemaat.
Sementara, Ketua Pemuda Sinode GMIT, Erens Blegur, mengungkapkan bahwa Prosesi Galilea merupakan mimpi bersama yang akhirnya terwujud dan diharapkan dapat terus berkembang ke depan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi festival Paskah yang lebih besar dan berdampak luas, sekaligus mendukung program pemuda GMIT dan pemerintah,” ujarnya.

Gubernur dan Wakil Gubernur yang turut menghadiri perayaan iman ini terlihat gembira dan larut dalam sukacita Paskah.
Melalui ungkapan Paskahnya, Wakil Gubernur NTT, Johny Asadoma sangat bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, aman, dan penuh makna.
Sebagai penganut Protestan, Johny pun menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan baru.

Ia pun mengapresiasi Prosesi Galilea sebagai sebuah inovasi yang luar biasa dalam perayaan Paskah. Kegiatan yang menggabungkan perjalanan darat dari Atambua ke Lasiana, serta prosesi laut menuju Pantai LLBK, dengan melibatkan sekitar 50 perahu ini dinilai sebagai bentuk kreativitas yang relevan dengan semangat zaman.
“Ini adalah inovasi yang patut diapresiasi. Kita sangat membutuhkan terobosan-terobosan seperti ini di tengah dunia yang terus berubah,” ujarnya.
Cerminan Toleransi yang kuat di Nusa Tenggara Timur
Prosesi laut dari pantai lasiana menuju LLBK sejauh bbelasan kilometer, melibatkan Komunitas Nelayan Muslim Oesapa. Mereka bahkan menghiasi perahunya dengan Salib, simbol kemenangan Kristus atas maut atau Paskah baru.
Hal ini menjadi gambaran nyata harmoni antar umat beragama di Kota Kupang dan NTT.
“Ini menunjukkan bahwa NTT adalah ‘Nusa Terindah Toleransi’. Kebersamaan seperti ini harus terus dijaga dan dirawat,” tegasnya.
Purnawirawan Polisi bintang dua ini pun menyarankann Prosesi Galilea, bepotensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi baru di NTT.
“Kalau ini terus dikembangkan, bisa menjadi tradisi dan bahkan budaya. Ini bukan hanya perayaan iman, tetapi juga kekuatan pariwisata daerah,” tambahnya.
Sedangkan Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Zimrat M.S. Karmany, menegaskan bahwa prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam.

“Ini adalah undangan untuk kembali ke Galilea, tempat Yesus pertama kali membangkitkan dan memanggil murid-murid-Nya. Kita diajak untuk memaknai bahwa Kristus bangkit bagi kita semua dan menghidupi kasih kepada sesama,” ujarnya.
Selain memperkuat nilai spiritual dan sosial, kegiatan ini juga dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang terlibat dalam rangkaian expo. @RedaksiKRT











