Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Aksi tak terpuji Empat pelajar SMA di Kabupaten Lembata yang membully kaum difabel melalui video pada akun sosial medianya, mendapat kecaman publik dan tiga organisasi pemerhati kaum difabel Kabupaten lembata. Forum Peduli Kesejahteraan Difabel dan Keluarga (FPKDK), Forum Pengurangan Risko Bencana (FPRB) dan Forum PUSPA ( Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) Kabupaten Lembata, memberikan pembinaan kepada para pelaku dan diarahkan membuat video permohonan maaf.
Kehebohan dimuali pada Selasa (030326) lalu, saat keempat pelajar perempuan ini merekam dirinya sedang berjoget santai dengan percakapan bertajuk “POV: Mama Kamu Cari yang Bisa Cacat”
Video yang diposting pada salah satu platform media sosial ini menampilkan keempat pelajar yang masih mengenakan atribut seragam sekolahnya, memperagakan gaya berjalan dari kaum difabel tertentu.
Peniruan ini dinilai bukan lagi menghibur namun dinilai sebagai tindakkan mengolok-olok, melecehkan dan menghina konndisi fisik pun martabat [ara penyandangnya.
Viralnya viideo yang disertai beracam komentar, menyita perhatian forum-forum terkait.
Terdorong kepedulian terhadap para penyandang difabel dan juga perkembangan mental para pelaku, pengurus dan anggota forum, berinisiatif menyelidik keberadaan para pelajar ersebut.
Pada Jumad (06/03) pagi, para perwakilan Forum akhirnya berhasil mengidentifikasi asal sekolah keempat pelajar tersebut.
“Kami berusaha mencari tahu tempat anak-anak ini bersekolah, karena mereka membuat video masih mengenakan seragam sekolahnya. Dan pagi ini kami berhasil dan bersama datang untuk memediasi dan memberikan arahan kepada para siswa. Syukurnya karena orang tua dan pihak sekolah juga kooperatif, ” terang Ramsia Langoday, Ketua FPKDK Lembata.
Ramsia menilai video tersebut bernuansa pelecehan terhadap kaum difabel.
Peristiwa tersebut diakui Ramsia, mendapat banyak kritikan dari komunitas para pekerja bai kaum difabel di NTT. Mereka mendesak agar para pelajar melakukan permohonan maaf kepada publik khususnya kaum difabel .
“Mereka (kaum difabel di Lembata, red), meneruskan video ini kepada saya dengan tambahan emoji sedih. Saya tahu mereka sangat terluka. Mereka tidak dihargai. Makanya kita datang untuk arahakan anak-anak ini untuk tindak lanjutnya. Dan tidak hanya kaum difabel, lebih dari 20 komunitas yang peduli dengan difabel di NTT mengecam keras postingan ini,” terang Ramsia.
Ketua FPRB Lembata Mikael Alexander Raring menilai perbuatan para pelajar tersebut sebagai kekeliruan, lantaran para pelaku masih berusia anak. Meski wajib bertanggungjawab, namun forum pun harus memperhatikan masa depan para pelaku.
“Urusan ini juga jadi perhatian FPRB. Kami juga datang untuk bantu selesaikan, karena mereka (pelajar pelaku, red) masih berusia anak. Meski mereka telah keliru, tapi penyelesaiannya harus tetap mempertimbangkan hak perlindungan dan tumbuh kembang mereka di masa mendatang, ” ungkap Mikael Alexander Raring, yang juga aktif dalam Forum PUSPA Lembata.
Usai mendapat arahan, keempat pelajar pun dibantu membuat video permohonan maaf.
Video berdurasi lebih dari 1 menit ini berisi permohonan maaf kepada semua kaum difabel di seluruh Indonesia dan segenap pihak yang terlecehkan akibat postingan video mereka, dan juga pengakuan bahwa video yang diupload tidak mengandung niat dan kesengajaan, untuk melecehkan kaum difabel.
Untuk memastikan terpenuhinya hak mereka sebagai anak, mekanisme penyelesaian dan publikasi video juga dilakukan dengan prosedur perlindungan.
“Kami sepakati, semua yang terlibat tidak membuat foto dan video keeempat anak dalam keadaan vulgar. Video permintaan maaf juga dibuat dengan menyamarkan wajah keempat anak. Mereka masih punya hak untuk tumbuh kembang dan memperbaiki diri dan kita harus menjaga itu,“ tandas Acan Raring dari FPRB Lembata.
Proses mediasi, arahan dan pembuatan video permohonan maaf ini disaksikan oleh pihak sekolah, orang tua, pengurus FPKDK & FPRB Lembata, anggota Forum PUSPA Lembata dan jurnalis.
Kepada keempat anak perempuan pelajar ini, Ketua FPKDK Lembata, Ramsia Langoday mengharapkan pentingnya membangun sikap menghargai perbedaan yang lebih maksimal dan kehati-hatian dalam bermedia sosial.
“Adik-adik harus menyadari, bahwa tidak ada orang yang pernah meminta untuk jadi difabel. Mereka punya keadaan yang unik dan kita tidak boleh membuat itu menjadi lebih buruk. Mereka mungkin berbeda tapi tetap punya hak untuk dihargai. Dan kita semua harus bisa menghargai perbedaan,” tegas Ramsia.
Video permintaan maaf ini akan diupload ke berbagai platform media baik secara mandiri oleh keempat anak maupun oleh para pihak terkait termasuk media. EA











