DesaKabar BeritaPanganUsahaWisata

Kreatifitas Komunitas Gebetan Lembata, yang Menggoda Melki Laka Lena

81
×

Kreatifitas Komunitas Gebetan Lembata, yang Menggoda Melki Laka Lena

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Kreatifitas membuka cakrawala baru dalam karya hidup manusia, yang terus maju dengan inovasi-inovasinya. Itulah yang dilakukan oleh komunitas Gebetan, di Kampung Ujung, Lewoleba, kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur dengan mengubah Sorgum dan Leye menjadi kopi. Produk baru ini menjadi primadona di etalase NTT  Marrt by Dekranasda Lembata dan menggoda Melky Laka Lena, Gubernur NTT.

Pada etalase terbaiknya, NTT  Marrt by Dekranasda Lembata. mentahtakan Kopi Sorgum.dan  Kopi Leye. Kopi siap seduh ini mengggucang rasa ingin tahu ratusan pengunjung, saat prosesi peluncuran salah satu unit usaha milik Pemprov NTT, pada Kamis (05/02/26).

Sorgum, tanaman yang sekilas pandang mirip jagung,  biasanya diolah dan dikonsumsi hanya sebagai pengganti beras. Jika digiling, tepungnya bisa sebagai bahan baku kue atau roti.

Demikian pula Leye, atau Jali-jali atau Hanjeli. Keduanya tanaman pangan yang mirip, namun berbeda pada ukuran bijinya. Biji leye lebih besar.

Kedua tanaman pangan yang adaptif dengan daerah minim curah hujan ini, terkenal karena memiliki banyak manfaat seperti meneurunkan kolesterol, mengonntrol gula darah, mengatasi sembelit dan mengandung vitamin B, kalsium serta sat besi.

Sering kali hanya dimanfaatkan dengan cara direbus atau dibuat bahan kue, kini keduanya disulap menjadi “kopi”  dengan rasanya yang eksotis, dan tentu sangat menggoda selera.

Eksotismenya yang terselubung, menggoda rasa ingin tahu para pengunjung.

“ Ini kita minum rasanya bagaimana no. Jo saya tahu sorgum itu orang masak macam beras padi. Ada juga yang bikin kue. Saya so pernah makan. Tapi ini jadi kopi? Hehehe. Kayaknya aneh le,” ungkap Stanis menggunakan dialek lokalnya. penuh penasaran.

Rasa penasarannya pun menjadi-jadi kala memandang Kopi leye.

“Ini lag eee.. Leye, Itu jail-jali to tata (kakak)? Yang orang Hoelea tanam tu. Jo dorang bikin kopi tu rasa bagaimana e?” sambung Stanis.takjub.

Dua produk unik rada aneh ini memang memantik penasaran beberapa pengunjung.

Kopi Sorgum merupakan kreasi komunitas anak muda Desa Tapobali Kecamatan Wulandoni – Lembata, yang mencampur tepung kopi dan tepung sorgum.

Komunitas itu bernama Gebetan (Gerep Blamu Tapobali Wolowutun) atau Kelompok anak muda Tapobali Kampung di ujung.

“ Kalau orang belum terbiasa, mungkin awalnya aneh. Tapi ini bermanfaat. Enak kopinya, kita minum juga aman karena ada sorgum. Lambung pasti aman. Kami sudah lewati banyak tahapan untuk sampai disini. Tanam, belajar olah, ikut pelatihan keamanan pangan dan kami sudah dapat label halal, ” ungkap Andika Kilok berseri-seri, menyaksikan Gubernur NTT mengagumi kreatifitas komunitasnya.

Memandang dari sudut etalase, Andika tersenyum kepada Melki Laka Lena yang bersama ajudannya, berkeliling dengan keranjang belanja. Banyak produk yang dibeli orang nomor satu NTT itu, dan berharap kopi sorgum di antaranya.

Komunitas kampung Ujung, karena berada pada ujung atau akhir aspal hotmixnya dana Propinsi NTT (APBD II), di perbatasan desatapobali, kopi sorgum lahir dan mulai merebut perhatian penikmatnya.

Di sampingnya ada Kopi Leye. Terbungkus kemasan mewah, Kopi ini menjadi ikon  “one village one product” Desa Hoelea II Kecamatan Omesuri.

Seperti sorgum-nya Gebetan, Komunitas Leye asuhan Pemerintah Desa Hoelea II ini mencampur tepung kopi dan tepung leye. Leye bagi orang Hoelea II merupakan  pangan pilihan selain jagung dan padi.

Kabarrakyatterkini.com  telah menelusuri kedua desa ini, dan produk-produk itu buah kreatif  kelompok anak mudanya.

Mereka telah mendapatkan pedampingan pemberdayaan dari Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Keuskupan Larantuka (Yaspensel).

Ihwal produk kreatif ini menjadi primadoona NTT Mart, Yoseph Payong Kepala Desa Hoelea II berkisah.

Sejak pendampingan awal LSM dan identifikasi, mereka memasukan  Leye dalam perencanaan desa.

“Setelah dengan Yaspensel, kami  masukan dalam perencanaan desa. Kami koordinasi dengan pemda dan pemprov, terutama koperindag. Selain dapat pelatihan, kami juga dapat dukungan fasilitas produksi. Kami serius kembangkan leye dan ini jadi inovasi kami. Selain kopi leye, anak muda juga bikin sereal leye. Banyak kue juga mama-mama di sini buat pake tepung leye, ” papar Yosep Payong saat berbincang dengan KabarRakyat terkin.om.

Sementara  Andika Kilok dan Komunitas Gebetan-nya dari Desa Tapobali juga memajang Kukis Sorgum.  Kue kering rendah karbohidrat ini dibikin dari tepung sorgum.

Sorgumnya merupakan hasil tanam komunitas Gebetan.  Berawl hanya sedikit hingga hasil berlimpah, Gebetan meracikna menjadi berbagai produk unggulan.

Sejak pendampingan Yaspensel Keuskupan Larantuka 2019, kini Gebetan telah mandiri sebagai petani juga produsen kuliner berbasis sorgum.

Selain kopi, produk pangan berbasis sorgum memenuhi etalase. Sepertii  nastar sorgum, beras sorgum dan sereal sorgum.

Semuanya buah kreasi Komunitas Ile Nogo, petani sorgum dari Desa Wuakerong Kecamatan Nagawutung, yang telah mengenal sorgum bersama Yaspensel sejak  2015 silam.

“Kami senang, sekarang pilihan menjual makin banyak. Kami biasa kirim ke Kupang dan ke Jawa. Sekarang sudah ada NTT Mart, kami bisa pasarkan juga di sini, ” ungkap Erlin Wutun, petani sorgum dari Kelompok Ile Nogo.

Ruang utama etalase jualan produk NTT Mart by Dekranasda tidak begitu luas. Sekitar 4×6 meter.

Semua etalasenya yang penuh dengan produk UMKM lainnya seperti anyaman topi daun lontar juga aneka hasil tenunan. Sarung dan selendang. (EA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *