Uncategorized

Jembatan Harapan, Bukti Cinta Kapolsek Kuwus bagi Siswa di Wae Songka

20
×

Jembatan Harapan, Bukti Cinta Kapolsek Kuwus bagi Siswa di Wae Songka

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Kuwus_ Senyum lega mulai bersemi di wajah para orang tua asal Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kekhawatiran menahun akan keselamatan anak-anak mereka yang harus bertaruh nyawa, saat menyeberangi sungai deras demi sekolah, kini bakal sirna.

Sejak Senin (2/2/2026), Kapolsek Kuwus beserta jajarannya, memulai pembangunan jembatan penyeberangan darurat di Sungai Wae Songkang.

Sungai ini merupakan jalur vital yang juga berbahaya bagi puluhan pelajar di kawasan tersebut karena berarus deras.

Arus sungai dengan lebar 20-an meter ini sangat membahayakan, karena dapat menghanyutkan.

Menggunakan material bambu yang banyak ditemukan di wilayah itu, Kapolsek  mewujudkan janji pemerintah dan melaksanakan perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk membangun jembatan darurat di wilayah terpencil seluruh Indonesia, dengan fokus pada keselamatan siswa ke sekolah.

“Kami telah memulai pembangunan jembatan darurat, yang diperuntukkan bagi mobilitas siswa maupun masyarakat Kampung Lesem sejak kemarin,” kata Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, dalam keterangannya, Selasa (3/2) pagi.

IPTU Arsi menuturkan langkah ini diambil menyusul kegelisahan masyarakat atas keselamatan 21 pelajar, terdiri dari 11 siswa SD dan 10 siswa SMP asal Kampung Lesem, yang setiap hari menyebrangi arus deras setiap pergi dan pulang sekolah.

 

Setiap hari, mereka harus menerjang arus sungai Wae Songkang selebar 20-an meter, untuk mencapai sekolahnya yang berada di Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat.

“Keputusan ini diambil demi keselamatan para pelajar yang setiap harinya harus menerjang arus sungai untuk mencapai sekolah mereka di SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat, Apalagi di musim hujan begini volume air terkadang banyak dan itu sangat berbahaya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan ini lahir dari aspirasi murni masyarakat dan guru.

Debit air yang meningkat drastis di musim hujan  membuat orang tua  dirudung rasa was-was,   melihat anak-anak mereka pergi menuntut ilmu.

“Ini adalah respons cepat kami atas kegelisahan masyarakat. Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena mereka ingin menuntut ilmu. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama,” tegas perwira yang akrab disapa Pak Arsi tersebut.

 

Melampaui Batas Administrasi

Proyek pembuatan jembatan ini unik, karena berada di antara dua wilayah administrasi yang berbeda.

Sungai Wae Songkang menghubungkan Kecamatan Pacar (wilayah hukum Polsek Macang Pacar) dan Kecamatan Kuwus Barat (wilayah hukum Polsek Kuwus).

Mmeski demikian, sinergi yang terbangun melalui pertemuan warga antar dua wilayah pada 28 Januari 2026 lalu,  menjadi titik awal kesepakatan terwujudnya proyek ini.

“Meski menghubungkan dua wilayah berbeda, hal tersebut tidak menghalangi sinergi kami. Didorong oleh aspirasi masyarakat, jembatan ini menjadi solusi atas ancaman luapan arus sungai,” tuturnya.

Modal Gotong Royong dan Material Lokal

Semangat luar biasa terlihat di lokasi pembangunan sejak pukul 09.00 Wita kemarin.

Warga bahu-membahu bersama aparat kepolisian dan TNI menggotong bambu dan membentuk jembatan layang, melintasi sungai Wae  Songkang.

Warga juga secara sukarela menyumbangkan material seperti  bambu, kayu, dan pasir, yang diambil  dari hutan dan kebunnya.

“Pembangunan kemarin sudah mencapai progres 50 persen. Kami menggunakan material swadaya masyarakat, sebagai bentuk kepemilikan bersama atas jembatan ini, agar nantinya mereka juga bersama-sama menjaganya,” jelas Kapolsek Kuwus didampingi  PLT Danramil 1630/03 Macang Pacar, Serma Mustamin.

Kendati progres pembangunan berjalan cepat, pihak kepolisian dan sekolah tetap mengeluarkan imbauan mewaspadai cuaca ekstrem dan debit air yang bisa meningkat sewaktu-waktu.

Para siswa disarankan untuk tidak memaksakan diri pulang ke Kampung Lesem jika hujan lebat turun.

“Demi keselamatan, para siswa disarankan menginap sementara di rumah kerabat atau rekan di Desa Golo Riwu. Kita harus menghindari risiko menyeberangi sungai saat arus sedang kencang,” imbaunya.

Selain itu, dirinya juga mengungkapan, pekerjaan hari pertama berakhir pada pukul 17.00 Wita dalam kondisi aman. Hari ini, Selasa (3/2), tim gabungan kembali turun ke lapangan untuk menyelesaikan sisa pembangunan.

“Hari ini kami fokus pada tahap finishing; pemasangan alas pijakan, pembuatan pagar pengaman, hingga pengecatan agar jembatan tidak hanya kokoh, tapi juga layak dipandang,” ungkap Inspektur polisi satu itu.

Bagi warga Golo Lajang, jembatan darurat ini bukan sekadar rakitan bambu dan kayu. Ia adalah simbol hadirnya negara dan kepedulian aparat terhadap masa depan generasi bangsa di pelosok Manggarai Barat. (RedaksiKRT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *