DesaHumanioraKabar BeritaNasionalPolitik

Hadapi Ancaman Bencana Hydrometeorologi, BPBD Lembata Kebagian Anggaran Rp 35 Juta Untuk Tahun 2026

57
×

Hadapi Ancaman Bencana Hydrometeorologi, BPBD Lembata Kebagian Anggaran Rp 35 Juta Untuk Tahun 2026

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Menghadapai Tantangan ancaman bencana hydrometeorologi dan bencana lainnya, Pemkàb Lembata, Nusa Tenggara Timur, menyisihkan  anggaran Rp 35 juta untuk dinas BPBD.

Data Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lembata mencatat belasan kejadian berisiko ancaman bencana hidrometeorologis di wilayah Lembata, sejak tahun baru hingga 22 Januari 2026. .

Ancaman bencana hidrometeorogis yang paling dominan yakni angin kencang, dengan risiko pohon tumbang dan rusaknya rumah warga dan fasilitas umum.

Selain angin kencang yang datang bersama hujan lebat, ada juga angin kencang tanpa hujan yang memicu risiko kebakaran.

Satu unit rumah warga lanjut usia di Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, terbakar pada 16 Januari 2026. Beruntung, penghuni rumah berusia lanjut berhasil diselamatkan.

Ancaman bencana Hidrometeorologis jenis angin kencang disertai hujan lebat pun mengancam semua kecamatan di Lembata.

Akibat angin kencang, ada rumah dan dapur yang terbongkar, atap diterbangkan hingga pohon tumbang yang menutup akses jalan dan menimpa rumah warga.

Bahkan  SDK 2 Lewotolok di Desa Lamawara Kecamatan Ile Ape, tiga kali diterjang bencana.

Sekolah ini belum benar-benar pulih pasca terdampak erupsi Gunung Api Ile Lewotolok (GAIL) pada 2021 dan banjir bandang akibat siklon Seroja tahun 2021, 14 Januari 2026 diterjang angin kencang.

Sementara itu, BPBD sangat mengharapkan dukungan masyarakat dan sektor lain lewat skema pentahelix, untuk kesiapsiagaan dan tanggap bencana, terutama bencana hidrometeorologis. akibat efisiensi anggaran.

Kepala BPBD Kabupaten Lembata menyebutkan, dalam DPA BPBD Kabupaten Lembata, hanya memiliki ketersediaan anggaran sekitar Rp 35 juta.  untuk membiayai program dan kegiatan BPBD hingga Desember 2026. Angka ini di luar urusan gaji dan kesekretariatan.

Alokasi Rp 35 juta ini tidak semuanya untuk urusan tanggap darurat bencana.

Urusan pelatihan dan kesiapsiagaan serta program lain selama 2026 juga bergantung pada anggaran dengan jumlah dimaksud.

“Kita berusaha tetap respon meski terbatas. Untuk kasus pohon tumbang saja, kita punya dua alat potong, 2 unit sensor, tapi rusak dan tidak ada biaya perbaikan. Belum lagi mobil operasional, ” ujar Yohanes Gregorius Solang Demo, Kalak BPBD Lembata.*(EA)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *