Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Sebagai salah satu wilayah yang masyarakatnya banyak bekerja sebagai pekerja migrant di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura, Menggugah DPRD Lembata menggagas Ranperda Perlindungan PMI. Lebih dari 4000-an Pekerja Migran Indonesia (PMI), pergi ke luar negeri lewat jalur mandiri dengan jalur non prosedural. Data ini dimunculkan saat Konsultasi Publik pembahasan draft rancangan peraturan daerah (ranperda) Perlindungan PMI Lembata pada 1 Desember 2025.
Ranperda ini, menjadi salah satu wujud komitmen pemerintah Lembata dalam perlindungan pekerja migrant.
Selain bagi pekerja migran lewat kebijakan, Pemkab Lembata juga berupaya memberdayakan para purnamigran yang telah kembali ke Lembata. Salah satunya adalah memperkuat kapasitas teknis purnamigran agar tetap berkarya dan produktif pasca kembali ke kampung.
Pemerintah pun melaksanakan Pelatihan Pengolahan Lahan Kering bagi para purnamigran.
Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq diwakili Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Quintus Irenius Suciadi membuka kegiatan pelatihan.
Dalam sambutannya, Bupati Lembata menegaskan bahwa perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) tidak hanya dilakukan sebelum dan selama bekerja, tetapi juga setelah mereka kembali ke kampung halaman.
Pemerintah daerah, kata Bupati, berkewajiban memberikan pembinaan dan pemberdayaan agar para purnamigran mampu mandiri, produktif, dan memiliki keterampilan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelatihan seperti ini merupakan bentuk nyata perlindungan pemerintah bagi para Pekerja Purnamigran. Keterampilan yang diberikan diharapkan mampu membantu saudara-saudara kembali membangun hidup yang lebih baik dan mandiri di kampung halaman,” demikian sambutan Bupati Kanis Tuaq yang dibacakan oleh Asisten I.
Lahan Kering jadi lokus pengembangan pertanian bagi purnamigran, sesuai konteks Lembata yang didominasi lahan kering dengan curah hujan terbatas. Menurut Bupati Lembata, meski kering, kreasi dan inovasi mampu menyulap lahan kering bisa memberi hasil maksimal.
“Meski lahan kering, metode, pendekatan dan inovasi bisa buat kita berhasil. ” papar Bupati Tuaq dalam sambutannya.
Kanis Tuaq, berlatar belakang ilmu pertanian dan pernah jadi Kepala Dinas Pertanian Lembata itu menekankan teknik konservasi air dan tanah, pemilihan komoditas unggulan, hingga penerapan teknologi pertanian adaptif dan inovatif sebagai solusi bertani di lahan kering.
Pelatihan ini diharapkan memberikan pengetahuan praktis kepada para purnamigran mengenai: Teknik pertanian lahan kering, Strategi pengelolaan usaha tani, Peningkatan produktivitas dan pendapatan keluarga, Pemanfaatan potensi lokal di Kabupaten Lembata.
Asisten I juga menyampaikan pesan Bupati agar peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba hal-hal baru. Pengolahan lahan kering, kata Bupati, memerlukan ketekunan, kreativitas, dan komitmen untuk terus belajar.
Pemerintah Kabupaten Lembata memastikan dukungan terhadap berbagai inisiatif produktif masyarakat, sejalan dengan program pembangunan daerah, termasuk Program Prioritas Unggulan NTT (Nelayan – Tani – Ternak).
Giat pelatihan di Aula Anton Enga Tifaona ini dihadiri oleh pimpinan OPD, narasumber Prof. Dr. Bernadette Barek Koten, S.Ptmp, para purnamigran dari berbagai wilayah di Kabupaten Lembata. @RedaksiKRT











