BudayaDesaGagasanKabar BeritaRohani

Diskusikan Hak-Hak Anak, Umat Katolik Lembata Berkomitmen Hidupkan Literasi Meja Makan

48
×

Diskusikan Hak-Hak Anak, Umat Katolik Lembata Berkomitmen Hidupkan Literasi Meja Makan

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Umat Katolik di Lembata, Nusa Tenggara Timur, berkomitmen memulai lagi praktik komunikasi berkualitas antara orang tua dan anak, saat   makan malam harian bersama di  rumah masing-masing. Praktik baik ini dipandang urgent dan penting, karena menjadi bagian dari pemenuhan hak anak, yang merupakan anugerah Tuhan Sang Pencipta.

Komitmen ini dimunculkan dalam katakese atau sharring iman antar umat Katolik Kelompok Basis Gerejani (KBG) Bunda Hati Kudus dan KBG Bunda Penebus Lingkungan Kornelius, area Komak Kelurahan Lewoleba Selatan.

Saat katakese  di rumah Meleng Leuwayan, salah satu umat KBG Bunda Hati Kudus, Umat Katolik Paroki Kristus Raja Wangatoa (PKRW), Keuskupan Larantuka pada Rabu (8 April 2026) malam,, menyepakati, peningkatan intensitas komunikasi orang tua dan anak, sebagai pemenuhan hak anak.

Hari terakhir Katekese  dalam tema “Hak Anak Sebagai Anugerah Tuhan,”  yang dipimpin Frater Paulus Dino Daka Doi, Pr, mengungkapkan sejumlah fenomena sosial budaya, yang mempengaruhi hidup dam  perkembangan keluarga.

Dalam suasaan doa dan permenungan sabda Tuhan, calon imam asal Kaburea Kabupaten Nagekeo ini memulai katekese dengan permenungan kisah Perlindungan Anak di Alkitab, saat Santu Yosef dan Bunda Maria berjuang keras, membawa Bayi Yesus Kristus mengungsi ke Mesir untuk menghindari kejaran Herode yang hendak membunuh Yesus.

“Tema ini kami pandang relevan dengan kehidupan umat karena akhir-akhir ini banyak terjadi fenoneman yang meresahkan. Banyak anak yang mungkin karena keterbatasan pendampingan keluarga dan juga aktivitas iman yang terbatas, terjerumus dalam tindakan yang membahayakan diri mereka,” papar frater Paulus.

Umat pun mensharingkan sejumlah pengalaman terkait banyak peristiwa kekerasan yang dialami anak.

Hermanus Tadon misalnya menyebutkan banyak terjadinya kasus pernikahan usia anak.

“Sekarang ini banyak kasus pernikahan usia anak. Mereka belum matang tetapi mungkin karena salah pergaulan jadi begitu. Ini salah satu yang harus dicegah,” ujar Hermanus.

Di tengah kegelisahan para orang tua, Ben Kia membeberkan temuan LSM tentang praktik baik budaya orang Lembata yang relevan untuk perlindungan anak.

 

“Beberapa bulan sebelumnya, ada LSM Plan Indonesia yang membuat kajian dan menemukan ada praktik budaya yang dulu sangat sering dilakukan masyarkat, Orang Kedang menyebutnya Ka Tutuq Min Teheq, Orang Lamaholot menyebutnya Tekan Nong Nenawen, Tenu Nong Naoten. Itu praktik bahwa setiap keluarga punya waktu komunikasi orang tua dan anak sambil makan. Bagi saya itu praktik baik dan bisa diaktifkan lagi. Kadang anak-anak memilih di luar rumah karena tidak nyaman dengan suasana di rumah. Mereka cari teman di luar dan bisa jadi salah pergaulan dan akhirnya nikah usia anak seperti yang disampaikan Pak Herman. Dan orang tua dulu sudah praktikan itu, mungkin kita bisa kembalikan lagi.“ papar Ben Kia, yang pernah mengenyam pendidikan calon Imam Katolik ini meyakinkan.

Indri, salah satu umat mengusulkan agar pendampingan orang tua tidak hanya soal menuruti kemauan anak tetapi juga membiasakan soal kewajiban anak.

“Saya setuju tadi ada yang bilang orang Lembata ini dulu punya praktik yang baik soal makan bersama dan saling komunikasi orang tua dan anak di meja makan. Itu tadi namanya Literasi Meja Makan itu. Kita harus bisa perkuat itu dan kita jangan hanya turuti kemauan anak saja. Anak juga harus dibiasakan wajib ikut apa yang diatur oleh orang tua. Misalnya harus makan bersama di rumah,”  ujat Indri menambahkan gagasan Ben Kia.

Beberapa orang tua terutama mama-mama mensharingkan pengalaman unik mereka mengurus anak.

Mereka setuju opsi literasi meja makan dan juga mengkritisi penggunaan  HP yang tak terkontrol.

“Itu praktik baik kalau kita biasakan makan bersama. Dan orang tua bisa tanya-tanya anak. Tapi kadang kita kesal karena sedang makan, atau kita sedang omong juga mereka (anak-anak, red) sibuk dengan hp,” ungkap Marlin Langobelen, salah satu mama peserta katekese.

Di penghujung Katekese, peserta  menyepakati sejumlah komitmen. Meski bukan komitmen tertulis, umat Katolik peserta katekese sepakat untuk meningkatkan kebiasaan komunikasi intens dengan anak.

Literasi Meja Makan adalah salah satu opsi yang dipilih.

Kepada Frater Paul, umat mengharapkan agar apa yang didiskusikan bisa disampaikan saat pertemuan bersama semua Frater dan Pastor Paroki Wangato untuk bisa ditindaklanjuti sebagai aksi tingkat paroki dan Keuskupan.

Bersama 46 rekan frater tingkat III Seminari Tinggi Santu Petrus Ritapiret Maumere Kabupaten Sikka, mahasiswa filsafat ini live in di Paroki Wangatoa selama sepekan.

Mereka akan kembali ke Ritapiret pada Minggu, 12 April 2026.

Umat KBG Bunda Hati Kudus dan KBG Bunda Penebus pun berharap,  pemuda cakap ini sukses menyelesaikan studi filsafat-teologi, sebagai bekal meraih panggilan imamatnya.

Alumnus SMP-SMA Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere ini bertekad menjadi imam diosesan Keuskupan Maumere. (EA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *