DesaHukumKabar Berita

Dari Sopi ke Gula Lempeng, Manisnya Perubahan Hidup Mama Maria, Warga Desa Benu

80
×

Dari Sopi ke Gula Lempeng, Manisnya Perubahan Hidup Mama Maria, Warga Desa Benu

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini, Takari_Dari sebuah pondok sederhana di Dusun 3, Desa Benu, Kecamatan Takari, aroma manis gula lempeng tercium semerbak. Lengan mungil mama Maria Aoetpah, tak lelah mengaduk cairan nira di atas tungku besar. Dengan ramah dan senyuman manisnya, ia menceritakan perubahan besar dalam hidupnya, sejak beralih dari pembuat minuman keras  sopi, menjadi pengrajin gula merah.

“Sekarang kami bekerja dengan tenang, tidak  lagi  dikejar-kejar rasa takut ditangkap polisi,” ujarnya sambil menuang adonan nira ke dalam cetakan.

Dulu, kendati  kerap menjadi sumber masalah sosial, masyarakat Desa Benu selalu  memanfaatkan nira lontar, untuk membuat sopi, minuman keras tradisional, sebagai sumber penghasilan,

Namun, cerita itu tinggallah kenangan bagi puluhan warga kabupaten Kupang ini..

Kehadiran Bripka Gede Suta, Bhabinkamtibmas Desa Benu, mulai mengubah arah usaha mereka, menjadi produsen gula merah atau gula lempeng, yang jauh lebih bernilai ekonomis dan menenangkan hati.

“Kalau buat sopi itu, satu drum nira butuh gula air  empat jerigen  kapasitas 5 liter, namun hasilnya cuma cukup untuk kebutuhan harian. Sedangkan kalau nira itu diolah jadi gula lempeng, dari satu jerigen nira, kami bisa menghasilkan seratus lebih lempeng gula. Hasilnya jauh lebih besar,” tutur Mama Maria, salah satu warga binaan Bhabinkamtibmas ini dengan penuh semangat.

Ia pun mengaku, kini hidupnya jauh lebih damai dibanding masa-masa saat masih membuat sopi.

“Dulu kalau jual sopi itu selalu takut, sering dikejar-kejar waktu polisi datang operasi. Sekarang kalau jual gula lempeng, tenang. Biar polisi lewat, kita malah kasih mereka gula manis buat cicip,” katanya sambil tertawa kecil.

Sejak tahun 2019, Bripka Gede Suta aktif membina warga Desa Benu dengan pendekatan humanis dan edukatif. Ia tidak datang untuk menindak, tetapi untuk memberikan alternatif usaha yang lebih menguntungkan dan legal.

“Saya hadir di sini bukan untuk melarang, tapi untuk mengubah pola pikir masyarakat. Kalau nira diolah jadi gula lempeng, nilainya lebih tinggi dan dibutuhkan setiap hari. Sedangkan sopi hanya laku saat acara tertentu,” jelas Bripka Gede Suta dengan nada riang.

Kini, berkat kerja keras dan pendampingannya, banyak keluarga di Desa Benu yang telah menikmati hasil manis perubahan tersebut.

“Dulu rumah Mama Maria beratap daun, sekarang sudah bisa bangun rumah tembok dari hasil gula lempeng,” ungkap Bripka Gede Suta bangga melihat perkembangan warganya.

Selain meningkatkan perekonomian, inovasi ini juga membantu menekan peredaran minuman keras di wilayah Takari. Hubungan masyarakat dan polisi pun kini jauh lebih harmonis.

“Kalau dulu polisi datang bikin takut, sekarang datang bantu jual gula,” ujar Mama Maria sambil tersenyum.

Dari tangan-tangan sederhana mama Maria dan warga Desa Benu lainnya, lahirlah manisnya perubahan. Usaha gula lempeng kini bukan sekadar sumber penghasilan, tapi simbol harapan baru,  bukti bahwa bimbingan yang tulus dapat mengubah kebiasaan lama, menjadi tangga menapak puncak kesejahteraan.

“Kalau dulu sopinya bikin masalah, sekarang gula merahnya bikin sejahtera,” tutup Bripka Gede Suta penuh arti, diringi senyum manis mama Maria yang terus bersi.

@RedaksiKRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *