Kabar Rakyat Terkini, Lembata_ Pemerintah Kabupaten Lembata menunda pelaksanaan launching Pembelian Jagung dari petani, yang sebelumnya dijadwalkan besok, Jumad 10 April 2026. Persiapan yang belum matang jadi salah satu alasan penundaan.
“Persiapan (launching Pembelian Jagung, red) belum selesai jadi belum bisa dilaksanakan. Jad kita juga batal mengirimkan informasi ke petani lewat para camat, ” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Muktar Hada, Kamis petang (09/04) via pesan whatsapp.
Padahal sebelumnya pada 25 Maret 2026, Muktar Hada membeberkan estimasi panen maksimal pertanian jagung Lembata musim Tanam 2025-2026 yang maksimal pada taksiran lahan seluas 12.055,84 hektar.
Dari total lahan tersebur, 3500 hektar di antaranya adalah pengembangan jagung hibrida dari program pemerintah dengan estimasi panen sekitar 36 ribu ton ( 3 ton/ hektar).
Penundaan launching pembelian jagung ini sekaligus menunda mimpi besar Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq untuk membantu petani jagung pada fase hilirisasi.
“Launching pembelian jagung adalah bagian dari implementasi pemerintah untuk hilirisasi jagung. Supaya petani bisa difasilitasi untuk menjual hasil panen. Apalagi tahun ini rata-rata hasil panen cukup bagus, ” terang Kanis Tuaq, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 31 Maret 2026.
Pemerintah Kabupaten Lembata punya dua skenario hilirisasi hasil panen jagung yang dimotori dua dinas teknis yakni Dinas Pertanian – Ketahanan Pangan (Distan KP) dan Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan (Diskoperindag).

Distan KP Lembata akan membantu fase pasca panen sesuai standar mutu melalui perontokan dari tongkol dan pengeringan hingga kadar air 13 persen.
“Kita di sini nanti urus pasca panen. Kita ambil dari petani dalam bentuk tongkol. Nanti dirontok jadi jagung pipil lalu proses pengeringan hingga standar kadar air 13 persen,” terang Muktar Hada.
Dinas Koperindag Lembata sendiri bersiap membeli 30 ton produksi masyarakat.
“Koperindag sudah siapkan budget untuk beli jagung pipil. Kita target 30 ton. Rencananya harga beli jagung pipil Rp 5.500/ kg. Nanti kita olah jadi beras jagung dan bahan baku pakan ternak, ” papar Willem Leuweheq, Kadis Koperindag Lembata.
Namun dua rencana di fase hilirisasi yang dimulai dengan Launching Pembelian Jagung ini kini tertunda sebab persiapan yang belum maksimal.
Sumber kabarrakyatterkini di pemerintah Kabupaten Lembata menyebutkan, salah satu kendala persiapan adalah soal regulasi pembelian jagung tongkol dari petani yang belum ada.
“Soal beli jagung dari petani dalam bentuk tongkol, itu belum jalan karena yang kami tahu, regulasinya belum ada. Harus dalam bentuk perbup. Dan itu kayaknya masih digodok, ” ungkap sumber tersebut.

Belum ada kepastian waktu pembelian jagung. Curah hujan dan pendampingan selama muaim tanam berujung hasil panen maksimal. Namun hingga kini, banyak jagung belum dipetik sementara curah hujan masih cukup tinggi. Penundaan pembelian hasil panen bisa berpotensi merusak hasil panen melimpah di depan mata. (EA)











