Kabar Rakyat Terkini, Lembata_Desa Bareng, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, berada di pesisir utara bagian timur pulau Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Pantainya berbatu. Separuhnya berpasir dengan beberapa rumpun tanaman pandan menghias di beberapa titik.
Sejak bergenerasi-generasi, tempat yang indah ini didiami oleh masyarakat Desa Bareng. Uniknya, meski kediamannya menyentuh bibir pantai, mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani.
Hiidup harian mereka bergantung dari hasil kebun berupa Jagung, dan umbi-umbian, serta pisang kapok yang tumbuh berjejer sepanjang jalan.
Hanya sedikit penduduknya berprofesi sebagai nelayan.
Namun kala warga tak lagi sibuk menanam atau menyiangi rumput di kebunnya, laut menjadi ramai, karena semua mengais berkah dari kemurahan laut.
Berbekal perlengkapan sederhana seperti sampan, pukat, dan tombak (kroa), serta peralatan mancing, mereka menyusuri perairan pantai mencari ikan.
Pesisir dengan dominasi batuan dan gelombang pasang yang ganas di musim tertentu, memang bikin hasil kegiatan melaut tidak sebarapa banyak. Namun, penduduk desa ini punya satu jejak menarik tentang hasil dari melaut.
Di sebelah timur pemukiman, berjarak sekitar 100 meter dari pantai, samar-samar terlihat tumpukkan batu-batu hitam besar.
Batu-batu bertumpuk melengkung, membentuk setengah lingkaran. Ada dua, yang oleh warga setempat disebut Atu. Sepintas mirip pondasi bangunan. Atu akan jelas terlihat bentukannya saat air laut surut.
Atu bukan bangunan bentukan alam. Penyusunnya adalah Abdulrahim. Karya ini dibuatnya saat masih muda usia. Selesai membuatnya sekitar tahun 1970-an, Ia menghabiskan banyak waktu hariannya.
Secara berkala ia memeriksa kondisi Atu dan akan masuk menangkap ikan kala laut sedang surut. Susunan batu Atu setinggi kurang lebih 1 meter ini berfungsi jadi jebakan. Saat laut pasang, banyak ikan yang mencari makanan di dalam kolam Atu. Saat laut surut dan ikan-ikan ini terjebak dalam kolam atu.
Atu jadi seperti kebun yang dikelola Abdulrahim. Ia merawatnya. Jika susunan bebatuan bergeser atau ada batu yang jatuh dari susunan, ia tata kembali. Banyak nelayan Desa Bareng yang mencari ikan dengan peralatan tangkap lain, tapi Abdulrahim bertahan di Atu, seperti kebun budidaya ikan yang sendiri dibikinnya.
Selama masih hidup, Atu hampir tidak pernah dimasuki warga lain. Abdulrahim tertib menjaganya hingga tutup usia. Kini, Atu jadi tempat yang bisa diakses banyak orang untuk mengambil ikan.
Selain jadi tempat menangkap ikan dengan cara sederhana dan gampang, Atu juga jadi benteng. Keberadaan batu-batu ini jadi pelindung, pemecah gelombang pasang yang di musim tertentu lajunya tidak terkendali. Abrasi di pantai jadi terkendali efek kerusakannya.
Manfaat Atu bagi masyarakat umum Desa Bareng mulai dirasakan setelah Abdulrahim berpulang. Lokasi ini jadi lebih leluasa dimasuki warga. Saat laut surut, warga datang dengan peralatan seadanya, pukat kecil, alat pancing atau nere untuk mengambil ikan. Macam-macam ikan yang terjebak di kolam atu.
Kisah Hiu yang Terlambat Pulang
Kepala Desa Bareng Kasman Senen Amang Bako punya pengalaman unik terkait ambil ikan dari kolam Atu. Pria kelahiran 1988 ini menuturkan, saat dirinya masih SMP, sebuah peristiwa menghebohkan datang dari kolam Atu. Ia jadi bagian dari masyarakat yang ramai-ramai ke Atu, saat beredar informasi terjebaknya seekor ikan hiu.
Posisi Atu memang tak jauh dari pesisir, tapi struktur bangunan dan kedalaman airnya, memikat hiu si predator nyaman berburu tanpa menyadari jebakkannya.

Keasyikan berburu, Hiu lupa waktu. Laut keburu surut. Saat hendak berenang pulang. tembok batu atu muncul di permukaan. Tadinya hanya separuh ketinggian saat laut di puncak pasang. Terjebaklah sang hiu.
Ini pertama kali terjadi karena sejak atu itu dibuat, hanya ikan-ikan lain seperti ikan batu, tembang dan ikan berukuran kecil yang terjebak di Kolam Atu.
“Warga ramai-ramai masuk kolam Atu, mengepung dan menangkap hiu. Hari itu ada panenan besar, jadi lauk bagi masyarakat Desa Bareng,” cerita Kasman, mengenang hari itu.
Sejak atu mulai terbuka untuk publik, pemerintah Desa Bareng punya niat lain untuk menjaga keberlanjutannya.
Itu tempat bagus, cocok untuk mancing yang aman. Anak-anak juga bisa mandi-mandi, berenang di situ, Jadi pemerintah desa sempat rencanakan untuk dikelola jadi tempat wisata. Tapi rencana itu belum berjalan, cerita Kasman.
Orang Desa Bareng tak benar-benar familiar soal laut. Tapi praktik kecil Atu yang diinisiasi almarhum Abdulrahim ternyata berkorelasi dengan penghidupan dari sektor laut. Dengan pantai dan pesisir bertopografi bebatuan dan gelombang pasang ganas, atu jadi pilihan melaut yang praktis, dan bisa dilakukan semua masyarakat. Setidaknya untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, ambil ikan di kolam atu saja sudah lebih dari cukup.
Selain itu, dasar susunan bebatuan Atu bisa jadi tempat aman berlindung bagi ikan. Boleh jadi ini bagus juga tempat beranak pinak.
Dari hasil wawancara diketahui, Atu tidak dibuat khusus untuk konservasi. Semata-mata jebakkan agar mudah menangkap ikan.
Namun praktik ini sesungguhnya ramah lingkungan, dan bisa jadi opsi konservasi laut di pesisir berbatu dengan gelombang pasang seperti Desa Bareng. EA









