DesaHumanioraKabar BeritaNasionalTerkiniUncategorized

Angin Puting Beliung Terjang Kelurahan Belo, Puluhan Rumah Rusak Berat, 1 Warga terluka

32
×

Angin Puting Beliung Terjang Kelurahan Belo, Puluhan Rumah Rusak Berat, 1 Warga terluka

Sebarkan artikel ini
Kabar Rakyat Terkini, Kota Kupang_Puuhan rumah warga dan satu gereja GMIT di kelurahan belo kecamatan Mauafa, Kota Kupang Nusa tenggara Timur, rusak berat diterjang angin puting beliung. Kesaksian Ibu Pendeta Gereja Yegar Sahaduta, peristiwa yang terjadi pada Sabtu (24/01/26) dini hari ini berlangsung singkat, tak sampai semenit, namun membuat tiga perempat
atap gereja hilang tersapu angin.
Masih dengan wajah tak percaya, Pendeta Selvi mengisahkan kejadian benana angin kencang yang merusak gedung geraja tempat pelayanannya.
“Peristwa ini terjadi sekitar jam no nol lewat lima menit, diawali dengan listrik padam.. Kejadiannya cepat saja, Hanya sekitar tujuh detik,” ujar Pendeta Selvi kepada KabarRakyat Terkini.com yang menemuinya di tengah kesibukan jemaat membersihkan puing-puing aatap yang tercecer di dalam gereja.
Gereja Yegar Sahaduta yang rusak diterjang puting beliung, 24 Januari 2026
Meski berlangsung sangat cepat, angin kencang memicu kerusakan atap gereja yang berada di RT 02 RW 08 ini hingga  80 persen, termasuk plavonnya.
Atap yang rusak hebat ini membuat bibir Ibu pendeta bergetar, karena membayangkan jemaatnya akan breibadah  beratapkan langit, sepanjang musim hujan ini.
Dirinya dan Jemaat hanya berharap bantuan semua pihak untuk segera merenoasi atap gereja, agar pelayanan kebaktian berlangsung normal lagi.
Jika Gereja hanya kehilangan sebagian atapnya, nasib amat tragis menimpa keluarga Wina Takaeb, yang hidup bersama 3 anaknya, tanpa didamping suami yang sedang merantau ke Kalimantan.
Angin menerbangkan seluruh rumahnya. Hanya tersisa lantai semen dan sejumlah perabot rumah tangga yang sederhana.
“Rumah satu air. kejadian tiba-tiba. Saya dengan bunyi angin masih sempat  bangun tutup pintu. Tapi pas masih berdiri di pintu, tiba-tiba rumah sudah tidak ada lagi,” ujarnya lirih sambil menggendong anak bungsunga.
Material rumahnya berupa atap seng dan dinding bebak serta keangka kayu usuk, terlihat tersangkut di pepohonan yang tumbuh di ipinggir kali, sekitar 30 meter dari rumahnya.
Tak jauh dari rumah Wina, Ito Beis,  hanya bisa duduk termenung memandang ke arah rongsokan rumahnya yang diterbangkan angin, seperti milik ibu Wina Takaeb.
Dua unit rumah bredinding bebak dan beratap seng, tersapu angin tak berbekas, hanya meninggalkan lantai semen, yang masih baah akibat hujan semalam..
Sementara rumah milik Anton Manu, koster gereja Yegar Sahaduta, kondisinya rusak parah melebihi kerusakan gerja.
Rumah sangat sederhana berdinding bebak, beratap seng karat dan berlantai semen yang pecah -pecah, terlihat telanjang. Dinding rumahnya sudah miring dan tampak goyah.
Masih dengan wajah tersenyum, Anton menyelamatkan sejumlah barang agar tak rusak ooleh air hujan.
Anak lelakinya basah kuyup oleh keringat, membongar seng-seng yang masih terlihat baik, unttuk dipakai ulang sebagai atap rumah.
Anton Manu, Koster Gereja Yegar Sahaduta di antara puing-puing rumahnya..
“Saya ada suruh bongkar yang bisa kami pakai,  kami pakai kembali. Memang  ada lobang semua , tapi utuk tahan-tahan,” ujarnya  seraya mengangkat lembaran seng yang telah dilepaskan oleh putranya.
Istri dan sejumah kerabat perempuanya hanya bisa duduk termenung, memandang rumah hunian mereka harus segera dibangun kembali, meski tak tahu kapan waktunya.
Seorang Warga Terluka
Seorang ibu rumah tangga bernama Ulpi tameo, menderita luka di kepala, bahu dan paha kiri, karena tertikam kayu atap rumah yang terbawa angin kencang.
Ulpi yang sedang berada di lapak jualannya berniat menyelamatkan diri ke rumahya, yang tak jauh dari lapak., setelah melihat kabel listrik tegangan tinggi bernyala akibat atap rumah warga yang tersangkut.
Panik, Ulpi berlari ke rumahnya yang berada sangat dekat denagn tower STT PLN.
Naas, atap yang diterbangkan angin menimpanya, dan paku menikam kepala dan pahanya, yang kemudian menyebabkan luka robek yang dalam dan lebar.
Akibat luka di paha kririnya, Ulpi kesulitan berdiri dan menggerakkan kakinya.
Ulpi, Korban Luka dalam Bencana Angin Kencang, 24 Januari 2026 di Kelurahan Belo, Kolta Kupang, NTT
“Beta mau lari datang sini, tapi tower ini menyala.  Seng totok kabel tower ko menyala. Beta takut strom. Pas lari,  balok yang ada paku datang tikam di paha. Ini paku yang masuk, ju  angin pi cabut bawa ko robek beta pung paha. Langsung beta peluk pepaya,” ceritanya kepada media ini, sambil duduk di atas kasur yang terletak di lantai pada  salah satu ruangan rumahnnya.
Kekuatan angin yang dahsyat menyebabkan sejumlah atap yang terbuat dari baja ringan, tercabut dan diterbangkan puluhan meter dari lokasi awalnya.
“Sampai saat ini kerusakan mendekati 30 an rumah dan ada satu yang korban kena tikam paku di kepala. Jenis kerusakan kebanyakan atap..Kayu kayunya rusak.  Banyak yang bubungan rumah diangkat dan  dikasi pindah
Rumah yang rubuh tu belasan. Kita sementara survei 30 an rumah dan satu gereja. Prstiwanya sekitar jam 12 lewat. Angin tidak sampai satu menit..Perputarannya cepat sekali, baru dia datang tu dia bunyi  besar seklali,” urai Otniel Tuan, ketua RW 08, menjelaskan kejadian musibah yang menimpa wilayah dan warganya.
Hingga Sabtu siang ini, BPBD Kota Kupang dan Provinsi NTT serta aparat kepolisian polsek Maulafa sedang melakukan pendataan jumlah kerusakkan dan korban luka.
Kerugian diperkirakan hampir mencapai Rp 1 Miliar. @RedaksiKRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *