Kabar Rakyat Terkini, Flores Timur_Setelah enggan berulah sejak 31 Desember 2025 lalu, Status gunung Ile Lewotobi Laki-Laki, turun dari Awas (level IV) menjadi Siaga (level III) pada 9 Januari 2026, dalam laporan khusus Badan Geologi hari ini. Gunung api yang berada di ujung timur pulau Flores dan dalam wilayah kabupaten Flores Timur ini tak lagi batuk sepanjang tahun 2026 ini.
“Berdasarkan analisis visual dan instrumental tersebut, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Lakilaki diturunkan dari Awas (Level IV) menjadi Siaga (Level III),” papar Lana Saria, PLT Kepala Badan Geologi Nasional dalam laporan khususnya kepada sejumlah media.
Pemantauan petugas secara visual dalam sepekan terakhir, menunjukkan Gunung api terlihat jelas
hingga tertutup kabut tebal.
Teramati pula asap kawah utama berwarna putih, dengan intensitas
tipis, sedang hingga tebal, dengan ketinggian sekitar 50-300 meter dari puncak.
Cuaca tercatat cerah hingga hujan, dengan angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, barat daya, barat dan barat laut.
Suhu udara berkisar 21-33°C.
Petugas mengenali adanya guguran, namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak
teramati.
Data kegempaan Ile Lewotobi sejak tanggal 1 sampai 9 Januari 2026 pada pukul 06.00 WITA, tercatat sebagai berikut;
1 kali Gempa
Guguran,
1 kali Gempa Hembusan,
5 kali Gempa Harmonik,
214 kali Gempa Tremor NonHarmonik,
11 kali Gempa Low Frequency,
296 kali Gempa Vulkanik Dalam,
7 kali Gempa
Tektonik Lokal,
49 kali Gempa Tektonik Jauh,
dan 1 kali Getaran Banjir/Lahar.
Pada periode pengamatan 1–9 Januari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi
menunjukkan kecenderungan penurunan yang signifikan.
Parameter kegempaan
memperlihatkan tren penurunan secara bertahap dalam satu minggu terakhir.
Aktivitas Gempa Vulkanik Dalam (VTA) yang sebelumnya mengalami peningkatan pada 31
Desember 2025, menunjukkan penurunan secara gradual.
Kondisi tersebut mengindikasikan
masih adanya suplai magma di kedalaman, namun belum terjadi migrasi magma ke
permukaan.
Hal ini diduga dipengaruhi oleh adanya hambatan pada jalur migrasi magma serta
tekanan gas yang relatif rendah sehingga belum mampu mendorong material magmatik
mencapai permukaan.
Sementara itu, tremor harmonik masih teramati dengan amplitudo
yang fluktuatif, yang menunjukkan bahwa proses suplai fluida/magma di kedalaman masih
berlangsung.
Oleh karena itu masyarakat perlu mewaspadai apabila terjadi peningkatan signifikan aktivitas Gempa
Vulkanik Dalam (VTA) dalam rentang waktu yang relatif singkat, karena kondisi tersebut
berpotensi memicu terjadinya erupsi.
Aktivitas Tektonik Lokal dan Tektonik Jauh masih fluktuatif, tetapi tidak menunjukkan
pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan aktivitas vulkanik.
Di sisi lain, data deformasi
dari Tiltmeter dan GNSS menunjukkan tren penurunan sejak seminggu terakhir, menandakan
tidak adanya tekanan magmatik yang mempengaruhi morfologi permukaan di tubuh gunung api.
Secara keseluruhan, parameter—visual, seismik, dan deformasi—menggambarkan bahwa G.
Lewotobi berada dalam fase penurunan jangka pendek.
Tidak terlihat indikasi kuat adanya dorongan magma baru, yang berpotensi memicu erupsi besar dalam waktu dekat.
Namun perlu diwaspadai dan dipantau secara ketat terhadap potensi aliran lahar selama musim hujan.
Meski demikian, penurunan status ini tetap dengan rekomendasi agar masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi, serta tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah
daerah.
Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Selain itu, masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana agar mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat, terutama pada daerah aliran sungai yang berhulu di puncak G. Lewotobi Laki-laki, seperti di Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Apabila terdapat hujan abu warga yang terdampak dianjurkan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk melindungi saluran pernapasan.
Abu vulkanik hasil erupsi G. Lewotobi Laki-laki juga dapat berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan apabila sebarannya mengarah ke area bandara dan jalur perlintasan pesawat.
Pemerintah daerah agar terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G.Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi. Informasi terkini mengenai aktivitas gunungapi dapat diakses melalui situs resmi Magma Indonesia maupun media sosial resmi Badan Geologi.@RedaksiKRT











