DesaKabar BeritaPanganUsaha

12 Ribu Ha Jagung Hibrida Siap Panen, Pemkab Lembata Rancang Skema Pemasaran

72
×

12 Ribu Ha Jagung Hibrida Siap Panen, Pemkab Lembata Rancang Skema Pemasaran

Sebarkan artikel ini

Kabar Rakyat Terkini. Lembata_Pemerintah Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur memastikan Jagung hibrida pada musim tanam 2025-2026, sukses besar.. Pengembangan jagung hibrida dengan luas lahan 12.055,84 hektar ini diperkirakan bakal menghasilkan 36 ribu ton,Caaia ini berkat  pendampingan maksimal dan curah hujan yang memadai..

Dari total luasan lahan di atas, sebagian di antaranya adalah pengembangan jagung hibrida dari program pemerintah dengan luas 3500 ha, dari program PT SMJ sebanyak 100 ha dan lahan swadaya masyarakat. pemerintah mengestmasi target capaian minimal 3 ton/Ha.

Mengantisipasi  berlimpahnya produksi jagung hibrida pada musim tanam ini, Pemkab Lembata sedang menyiapkan skema pengolahan pasca panen, produk turunan dan penjualan.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama  Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan UMKM Kabupaten Lembata, mendapat tugas penanganan pasca panen.

“Jagung hasil panen dari lahan program pemerintah dan swadaya masyarakat, akan dibeli oleh pemerintah. Nanti akan dibeli dalam bentuk tongkol basah. Dinas Pertanian akan lakukan perontokan dan pengeringan hingga kadar air 13 persen. Lanjutannya akan diserahkan ke Dinas Koperindag untuk produk turunan seperti pakan dan beras jagung, ” papar Muktar Hada, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata.

Puncak panen jagung hibrida, tambah Muktar, akan terjadi pada Bulan April 2026 untuk penanaman bulan Desember 2025.

“Jadi panenan jagung hibrida tahun ini sudah ada yang mulai selama Maret. Itu yang tanam bulan November. Paling banyak itu yang tanam bulan Desember dan nanti banyak panen bulan depan (April 2026, red) ” tambah Muktar.

Pemerintah optimis semua lahan pertanian terutama jagung hibrida akan panen maksimal.

Erupsi Gunung Berapi Ile Lewotolok disebut tidak berdampak meski sejumlah lahan seperti di Lamawolo Kecamatan Ile Ape Timur dan Desa Lebewala Kecamatan Omesuri sempat terpapar abu vulkanik erupsi.

“Sempat waktu ada erupsi, kita khawatir akan gagal. Tapi waktu tim turun periksa, tidak ada masalah. Misalnya yang di Lebewala, itu memang kena abu, tapi tidak merusak karena setelah itu langsung hujan. Jadi langsung bersih dari abu,” terang Muktar.

Pemerintah menyebutkan harga jual tetap akan merujuk pada harga nasional pakan ternak dari jagung hibrida yakni Rp 5.500/kg.

Sementara untuk harga pembelian jagung hibrida dalam bentuk tongkol basah, pihaknya masih melakukan perhitungan sekaligus sedang ujicoba teknologi pengering manual.

“Tim kita sedang buat perhitungan termasuk ujicoba alat pengering manual. Memang masih manual tapi kapasitasnya lumayan. Alatnya bisa tampung jagung pipil dalam jumlah banyak. Tadi kita sudah rapat dengan tim TAPD bicarakan itu. Rencananya, tanggal 10 April, akan launching pembelian jagung hibrida tongkol basah,” pungkas Mukar Hada. EA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *